#FF [1] : 23 on 23th 2


“ Kak Rian…nanti aku mau ke cafe yah,  mau nge-Wi-fi .. hehe” ujarku sambil memelankan sepedaku supaya sejajar dengannya.

“iyaa,, sms saja atau mention twitter aja ya dik kalo udah di Nyaman“ Kak Rian, salah satu teman IELTS ku, tinggal tepat di belakang Nyaman Cafe, dia memang selalu menjadi orang yang menemaniku  di Cafe yang membuat pelanggan benar-benar nyaman. Setelah satu minggu hunting Internet connection, akhirnya aku menemukan wi-fi di cafe ini. Serasa hidup lagi.

Yah, baru satu minggu aku bersama Nina dan Dwi di kampung ini, Kampung yang terkenal se-Nusantara Indonesia sebagai Kampung Inggris. Untuk memenuhi salah satu kebutuhan pribadi dalam mencapai masa depan, aku meluangkan waktu 3 minggu di kampung ini. Belajar IELTS dan TOEFL IBT.

Masih teringat, ketika hari pertama belajar disini, ekspresi shock dan kaget yang ditunjukkan teman ketika mendengar program yang kami pilih.  Seperti mendengar berita paling ngeri sepanjang masa.

“ngambil program apa mba?Speaking? Grammar? Atau apa?”

“bukan, ngambil IELTS dan TOEFL IBT mba”

Dunia berhenti 3 detik, mata mereka tiba-tiba membesar, dan respon yang terdengar : “hah?”

Dengan ekspresi dari berbagai penanya yang responnya ‘sama’ seperti itu, kami jadi berpikir, ‘Se-mengerikan itukah ketika 2 program terberat kami ambil secara bersamaan?’Entahlah, jalani saja apa adanya ..Jadilah 2 minggu terberat yang  kami lewati.

“Ya udah kak, aku duluan yaa ! nanti aku kabarin.”

“Iya,, eh beliin bengkoang yaah! Kasih tau ibu potong-potongin, nanti bawa ke Nyaman ya ! Dah Dah adik Tasya“  Kak Rian berteriak menyampaikan pesanannya yang sudah menjadi rutinitasnya, makan malam dengan bengkoang. Untuk kecantikan kulit katanya. Yah, memang aku akui, Kak Rian ini cantik.

Aku menyimpan sepedaku tepat di bawah pohon dan  segera memasuki rumah yang menjadi tempat tinggalku selama di sini.

“Kak Tasyaa.. minta nomernya mba nina dan mba dwi donk. Boleh? “ Rima, salah satu teman kosan menegurku ketika aku baru mau memasuki kamarku.

“ Iya, ntar aku sms yaa! ”

“iyaa,, soalnya ntar malem aku mau keluar, mungkin pulangnya jam-jam 1 an, gak enak ngebangunin ibu, takutnya juga si Endang ketiduran, jadi minta nomer buat bukain pintu gerbang ntar tengah malem yaa!”

Rima dan Endang, baru juga satu minggu tinggal di rumah ini, kami menyebut mereka dengan nama Duo Jakarta. Selain Rima dan Endang. Ada juga mba sherly, Meriska, dan Ria ku sebut dengan Trio Bogor. Mereka, juga memanggil kami dengan nama Trio Makassar.

Sambil mengangguk, aku memasuki kamar. Sore itu aku pulang sendirian, setelah kelas tadi, Nina dan Dwi singgah di toko buku. Sedikit shock, harga buku disini 2 kali lipat lebih murah dari pada di kota Makassar. Harga 1  novel terjemahan di Makassar sama dengan harga 3 novel di sini. Di kamar sudah ada 7 novel terjemahan, 2 Novel indonesia. Yah, satu-satunya cara mematikan rasa bosan diwaktu luang dengan berimajinasi di dunia novel. Hampir tiap malam kamar kami hening, hanya suara kertas yang dibolak-balikkan yang terdengar. Terkadang salah seorang dari kami tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seketika dan kemudian hening lagi. Keesokan harinya, kami sharing dengan cerita novel yang kami baca. Ceritanya pun aneh-aneh, tentang 7 anggota militer, yang digambarkan sebagai sosok yang memiliki kadar kecakepan tingkat dewa, beranggapan bahwa berperang melawan wanita lebih sulit dari pada tugas pokok mereka. Atau tentang seorang guru perempuan membawa kabur 4 muridnya dari sebuah kastil yang kemudian menjadi asisten detektif menyelidiki pembunuhan-pembunuhan yang menyangkut dengan dirinya. Atau tentang seorang wanita meminta pertolongan kepada seorang detektif di London karena dihantui oleh roh suaminya yang baru saja meninggal. Belum puas, Nina masih ingin melengkapi koleksi bukunya yang sepertinya nanti akan membuat masalah di Bandara, Over baggage.

Aku segera membersihkan diri, memindahkan data foto dari canon, menyiapkan laptop, dan menunggu Nina dan Dwi. Tepat ketika semuanya beres, Nina dan Dwi memasuki kamar.

“pas banget.. ada novel baru lagi? Aku mau ke Nyaman nih ..”

“Yap. Novelnya Amanda Quick, kayaknya aku mulai suka dengan alur cerita karangannya. Ok.. hati-hati nak!” Nina menunjukkan novel baru itu, sekilas aku baca sinopsisnya. Cukup menarik. Yah masukkan dalam ‘waiting list’.

Nyaman cafe tidak jauh dari rumah tempat tinggalku, bergowes 3 atau 2 menit, sudah sampai. Sambil menunggu kak Rian, ku buka laptopku dan memesan jagung manis dan es teh, menu andalanku.

“Tasyaa.. udah lama? Aku tadi nyari charger-an tetangga. Mau pinjem. Puspa eeiim.. chargeran lupa di jakarta, eh bengkoang aku dibawaa gak?” Kak Rian dateng sambil mengerutu lembut di depanku. Kak Rian, nama lengkapnya Rian Suryanto, nama wanitanya Riani Suryanti, dan nama jawanya Meni dengan nama jawa lengkapnya ‘MenikmatiSuasanaMendungSoreIni’.  Kak Rian berasal dari Jakarta, bertubuh kecil, kulit putih mulus, rambut terurai berwarna perpaduan merah maroon dan hitam sebahu, wajah cantik bersih. Lebih cantik dari wanita pada umumnya. Dia seorang waria. “aku banci elegan, bukan banci dendong yang make upnya menor norak gituu eiimm” .  Yah, dia memang tampak elegan.  Dia selalu mengenakan baju kaos atau kemeja dan celana panjang. Cukup simple. Gaya jalannya yang seperti jalan di atas catwalk, suaranya yang lembut,wajah dan rambutnya yang cantik. Menunjukkan kalau dia  “setengah wanita”.

“haha,, iya niih bengkoangnya, eh..jadi Kak Rian, Charger-an nya dapet gak ?”

“Iyaa,, untung tetangga kamar aku itu yang cakeep ituu..putih, tinggi, badan pas, pemain bola eeimm, dia punya chargeran.. tapi nanti malem baru bisa pinjem. Lagi dipake soalnya”

“hahaha….”

Sambil bercerita, aku berselancar riang di dunia maya. Balas dendam akibat susahnya nge-net di kamar. Jaringan Internet via HP agak buruk. Perlu mengangkat dan menggoyang-goyangkan HP untuk mendapatkan jaringan internet yang baik, mencari sinyal. Terkadang aku mendapatkan sinyal di pojok kamar,  Itu juga dapatnya cuman satu batang, dan loadingnya sangat lama.

Setelah puas 3 jam internetan. Aku berpamitan dengan kak Rian dan pulang ke rumah.

Suasana rumah lagi ramai, Duo Jakarta dan kedua temanku duduk rapi di kamar Trio bogor. Ketawa haha – hihi.. sepertinya ada gosip terbaru, yang mengalahkan gosip terhangat di infotaiment Tv.

“ayoo.. ayoo.. lagi ngegosip apa ini? Tentang Mr. X yaa? Atau..tentang ‘You know who’? “ aku berdiri di pintu kamar mereka, ada rasa “gak rela” ketinggalan berita dari mereka.

“haha.. iyaa,, banyak gosip nih. “ mba Ria menjawab dengan ekspresi yang “sok imut”, membuatku tergelak.

“eh tasya,, ada ibu di depan ? ada yang mau ku beli..” Nina bertanya seraya memberikan kunci kamar.

“ iya,, mau beli apa?”

“beli telur”

“buat apaan? Sarapan besok yah?”

“ yap”

Nina segera bangkit, mengambil jaket dan pergi menemui ibu kos, dan Dwi yang juga ada di kamar itu,  asik mendengarkan celoteh sambil bermain onet di androidnya. Aku memasuki kamar. Dan kantuk mulai menyerang yang berhasil mengurungkan niat ikut bergabung untuk bergosip dan bercerita hal-hal gila nan absurd dengan mereka. Aku segera mengganti baju tidur, cuci muka, sikat gigi, berwudhu, dan tidur.

Dreett dreeet..

“tasyaa,, ada yang telepon..” suara nina terdengar berat, jelas dia merasa terganggu, getaran HP ku terasa dan membangunkannya.

“heeeemm… iyaa,, haloo ?” masih setengah sadar, aku menjawab telepon.

“Kak Tasyaaa,, aku Rimaa,, minta tolong donk. Aku ada di depan pagar, bukain pintuu… baru pulang nih..” suara memelas Rima terdengar .

“hhmmm,,, iyaaaa.. tunggu “ Malas, berat, aku terpaksa bangun sebelum jiwa raga bersatu.

“Rimaa,, ckckck,, anak ini beneran pulang tengah malam..nakal juga nih anak.” pikiran negatif tentang rima muncul dalam pikiranku.

Aku pun keluar bersama Nina ke depan untuk membukakan pintu pagar.

“Rimaa,, kamu dari mana siih?” sedikit merasa sebal karena mimpi indahku terpotong gara-gara teleponnya.

“maaf kak tasya… aku baru pulang.. eh bukain pintunyaa..”

Nina berdiri disampingku, aku membuka pintu pagar, jiwaku masih mengambang, dan sangat ingin kembali ke kasur berharap mimpiku berlanjut.

Pintu pagar terbuka. Rima masuk dan

PLAK ..

“EEEEHH APAAAN INI?? RIMAAAAA???” aku panik, sebutir telur pecah di kepalaku..

Nina mendekat, PLaaak. Telur kedua hancur di kepalaku..

“WOOOOOYY NINAAAAAAAAAAA ?”

Panik.. yang terdengar suara tawa devil dari mereka .

PLAAAK…PLAAK …Telur pecah sempurna di tubuhku. Tinggal ditambah terigu lalu digoreng, jadilah makanan manusia crispy  yang gurih.

Tiba-tiba seseorang menarikku ke belakang, wajahku penuh dengan telur, tidak dapat melihat siapa yang menarikku…

“AAAAAHHHHHH AAAPPAAAAA INIIIIIII??”

BYUURRRRRR

sebotol air kopi dan berbagai campuran lainnya membasahiku.

“AAAAAAHHHHHHHH”

Seperti masih kurang puas, sebotol aqua paling besar berisi campuran eksprimen dari trio bogor mengguyurku dengan sempurna.

“AAAHAHHH”

Suasana gelap dan sepi, yang terdengar suara terikanku dan tawa devil dari mereka.

HAAPPPYYY BIRRTTHDAAAAAYYYY TASYAAAAAA!!!

Astaga… tersadarkan… ternyata mereka mengerjaiku dengan sempurna..

Sebel dan terharu jadi satu, marah dan seneng melebur. Sempat lupa, ternyata hari ini hari kelahiranku. Tidak pernah terpikirkan, mereka akan nge-bully ku sepuas-puasnya. Memanfaatkan moment untuk menyalurkan hasrat kerjain orang dengan cara paling gila.

Kesel dengan kondisi ku yang sudah menyerupai zombie,  rambut penuh air kopi, baju tidurku yang berwarna putih krem berubah seketika menjadi coklat tua. Sangat mirip zombie yang berguling-guling di sawah. Aku mengejar mereka satu persatu. Ingin memeluk mereka. Sambil tertawa puas mereka berlarian, sangat mirip Zombie dalam film The Walking Dead, yang haus mengejar manusia.

Lelah berlari, mba Ria muncul dari balik semak sambil membawa cake dengan satu lilin.

Terharu, akupun nyerah untuk mengejar mereka. Kami berkumpul. Keadaan diluar rumah sangat gelap dan sepi. Hanya diterangi oleh 1 lampu jalan dan cahaya bulan. Bulan sangat terang malam ini. Seterang suasana hati.

Surprise dari mereka tidak pernah terpikirkan olehku, mengingat kami baru kenal dan seatap dalam waktu 1 minggu.

“hahaha… Tasyaaa…. cantik sekali kamu malam ini… hahahah”

“hahaha,, Zombiee.. Zombiee…”

“haha… wanita beraroma kopi …”

Berbagai celoteh dari mereka, tergambar jelas kepuasan  di wajah mereka.

“ayoo tasyaaa.. Make a Wish,, tiup liliinnnyaaa!”

Masih shock, mba ria mendekatiku, menyodorkan kue.

“Smoga sukseeesss!”

“Smoga lancar rejekinya, besok traktir kita”

“Cepet dapet jodoh”

Satu per satu menyampaikan do’anya yang ditujukan kepadaku.

Aku tersenyum, suara tawa masih terdengar…

“Wishnya dalam hati aja yaa,, cukup aku dan tuhan yang tahu… “  segera, aku meniup lilin itu,

“Cieee yang udah tuaaa.”

“cieee yang berkurang umurnyaa”

“Cieee yang ulang tahun”

Berbagai cie dilontarkan kepadaku. Hari itu adalah hariku.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Misi mereka berhasil. Tengah malam itu, aku terpaksa mandi dan keramas sebersih-bersihnya. Rasa sebel muncul dalam hati, tadi sore cukup senang mencium wangi rambutku, wangi dove yang segar. Belum cukup sehari, wanginya berubah menjadi bau kopi. Dua sachet shampo dove tetap tidak dapat menghilangkan aroma kopi.

Nyerah, sepertinya besok mesti keramas lagi. Aku kembali ke kamarku. Mereka masih menungguku, menceritakan semua kejadian persiapan mereka. Yang sama sekali tidak aku sadarkan.

Semua rekayasa. Tidak ada yang keluar rumah, Rima anak baik-baik, telur bukan untuk sarapan, dan mereka bukan bergosip, tapi merencanakan skenario di kamar trio bogor. Ah.. kok bisa gitu berbagai kode tidak terbaca olehku..

Lelah dan puas akan membuat tidur kami nyenyak. Sadar akan aktivitas besok yang tetap harus dilakukan, satu persatu kembali ke kamarnya.

Lampu dimatikan, aku masih terjaga. Pikiranku melayang ke masa lalu,tepatnya 23 tahun yang lalu. Membayangkan proses kelahiranku, dan mengingat segala harapan orangtuaku untukku. Malam itu akupun berinteraksi dengan tuhan. Menyampaikan berbagai misi kehidupan dan introspeksi diri. Sadar, waktuku semakin singkat. Banyak yang harus diperbaiki, banyak yang harus di lakukan. Akupun berjanji dengan diriku sendiri. Tahun ini akan menjadi tahunku. Tepat 23 tahun pada tanggal 23 . Terima Kasih Ya Rabb, masih diberi kesempatan untuk hidup. Tasya! Happy Birthday 🙂

——————————-

Tulisan ini termasuk dalam “permainan menulis” bersama teman keren yang sama-sama ingin belajar menulis #CeritabulanMei 


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “#FF [1] : 23 on 23th