Ada Masalah? Coba Tuliskan! 5


 “Marwah! Marwah!”

Mall Ratu Indah Makassar sedang ramai malam itu. Baru saja berakhir acara Pesta Anak Makassar yang dilakukan oleh gabungan komunitas sosial di Makassar. Setelah seharian menyaksikan penampilan menggemaskan dari anak-anak, rasa lelah pun hadir menjadi penanda untuk segera pulang.  Tepat ketika berjarak sekira lima meter dari pintu keluar, nama saya terdengar samar.  Berhenti sejenak,  putar badan, celingak-celinguk, mencari sumber suara.

Aduhh Nak Marwah, Hey! Ini ibu!” dari kejauhan terlihat seorang ibu melambaikan tangan sambil menggandeng anaknya yang berlari kecil. “Ibu Titin!” wajah saya sumringah, segera  saya salami, mencium punggung tangan kanan dan memeluk erat tubuhnya. Melampiaskan rasa rindu, menunjukkan kebahagiaan atas pertemuan yang tidak disengaja ini.

Aduuh Nak Marwah, tambah aktif saja nih, gimana-gimana? Apa yang telah kamu lakukan setelah pertemuan kita yang dulu?” Ibu Titin, seorang psikolog yang pernah menjadi Guru BK di masa SMA  sepuluh tahun silam.  Masa ketika saya belajar hidup dalam sekolah berasrama, masa di saat saya mulai jauh dari pengawasan orang tua. Saya cukup dekat dengan Ibu Titin, masih teringat ketika saya sering bermain keruangannya hanya sekadar bercerita atau konsultasi tentang beragam masalah. Tentang saya yang galau ingin pulang ke Riyadh. Tentang melampiaskan perasaan sedih jika tiba waktu pulang dari asrama, teman-teman yang lain dijemput oleh orang tua dan saya menggunakan ojek. Dan segala tentang kisah seru putih abu-abu.

Mata saya sedikit berkaca-kaca, sangat berbahagia bertemu dengan Ibu Titin. Ibu keduaku.
“Alhamdulillah, Bu. Ah Ibu, Saya masih terus belajar bu, belum seberapa. Sepertinya saya juga mulai mengerti sedikit demi sedikit atas segala rencana Tuhan. Setiap yang terjadi pasti ada maksud baiknya, kan?” Saya tersenyum. Senang rasanya, bertemu dengan Ibu yang selalu memberikan segala solusi atas permasalahan yang saya temui.

***

Tiga tahun yang lalu.

Suara Gotye dengan lagu Somebody That I Used To Know  mengalun jelas. Secara refleks membuat kaki saya terhentak-hentak pelan. Di meja sudah tersedia French fries versi large dan nasi ayam crispy dengan kulit renyah. Kali ini hanya makan berdua, tapi porsinya seperti sedang makan berempat. Ibu Titin hanya menggeleng kepala melihat saya pergi lagi memesan Chicken Snack Warp  dan eskrim.

“Jadi setelah ini apa yang kamu mau lakukan nak?” Ibu titin dengan suara lembutnya menanyakan hal yang saya sendiripun tidak tahu.

“Entahlah bu, menurut ibu?” Saya baru saja lulus kuliah untuk jenjang strata satu.  Satu masa telah dilewati dan naik ke level kehidupan berikutnya.  Saya berada di titik : kamu mau jadi apa? Kamu mau kemana? Kamu mau melanjutkan studi? atau mencari pekerjaan seperti ribuan fresh graduate lainnya.

“Harus segera menentukan lah nak! Jangan biarkan waktumu berlalu tanpa berbuat apa-apa. Masih muda kok, masih banyak waktu untuk eksplorasi diri.”

“Iya bu, tapi…”

“Tapi apa? Hindarilah kata ‘tapi’, hanya satu kata, tapi akan menggugurkan makna kalimat sebelumnya, ya kan

Haha iya Bu, tapi saya bingung. Begini bu, ketika saya mau begini, tapi orang tua saya maunya begitu. Sebenarnya saya ingin melakukan banyak hal, tapi gimana caranya ya? Kadang saya bingung juga mau ngapain, aduh saya bingung membahasakannya ibu.” saya menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Bingung dalam membahasakan bahwa saya sebenarnya tidak tahu mau melakukan apa. Bukan bingung  sebenarnya, saya memiliki banyak keinginan, banyak yang ingin dilakukan tetapi entah bagaimana caranya.  Jadi, saya bingung juga, apa yang harus saya lakukan? Sudahlah saya jadi bingung dengan paragraf ini .

“Setiap orang pernah mengalami titik itu, apa yang mau saya lakukan, apa yang sebenarnya saya cari, apa yang seharusnya dilakukan. Baguslah kamu menyadari pentingnya kesadaran tentang langkah selanjutnya. Setiap orang juga mengalami itu, setiap orang memang memiliki keinginan yang berbeda-beda, termasuk kamu dan orang tuamu, Marwah. ” Ibu Titin tersenyum, dia pun mengeluarkan pensil dan buku tulis berwarna merah.

“Sini, Ibu ada saran, untuk segala permasalahan cobalah untuk tulis dalam secarik kertas. Buat pertanyaan yang memang Marwah tanyakan pada diri sendiri. Apapun.  Setiap bertemu masalah, coba tuliskan dalam bentuk pertanyaan. Apa yang marwah inginkan? Apa masalahnya? Apa kelebihan dan kekurangan di setiap pilihan. Sudah ditulis pertanyaannya, lihat soalnya dan jawab lah! Bandingkan setiap jawabannya. Marwah memilih kuliah atau bekerja, bandingkan kelemahan dan kelebihan dari keduanya. Tulis dikertas, biasanya dengan menulis dikertas akan terlihat masalah yang sebenarnya tidak sebesar dengan yang Marwah pikirkan. “

Saya diam, mencerna setiap kalimatnya.

“Contoh kecil, ketika seseorang putus dengan pacarnya. Ia akan galau seharian, bahkan bisa sampe berhari-hari , berbulan-bulan. Coba tulis : kenapa putus dengannya? Karena memang dia tidak layak.
nah kalau sudah tahu, kenapa mesti bersedih sepanjang tahun? Wanita memang lebih perasa, tapi harusnya ia cerdas bukan? Haha, eh Marwah sudah punya pacar?”

Ah Ibuu, kalau itu sih nanti juga ketemu haha” Sambil menggeleng, saya tertawa kecil. Benar kata Ibu Titin. Hal yang saya butuhkan sederhana, butuh waktu berbicara dengan diri sendiri.

“Jadi  cobalah cari waktu, duduk dikamar, sendiri, sambil dengar instrumental yang lembut, lalu tuliskan. Segala permasalahan Marwah, pasti bisa dilewati, God will never give you anything you can’t handle, so don’t stress dear!
Tambahan lagi, supaya lebih pede atas diri sendiri dan kenal diri sendiri. Tuliskan kelemahan dan kelebihan. Tuliskan juga prestasi-prestasi yang pernah Marwah raih. Dengan begitu Marwah akan lebih mengenali diri sendiri. Cobalah !”

Adzan asar sudah terdengar,  eskrim yang kupesan sudah habis dan Ibu Titin akan ada urusan lain.

“Bu…”

“Nak, segala yang terjadi ada maksud baiknya. Manusia tugasnya berusaha dan berdoa, biarkan Yang Maha Kuasa menentukan segala hasilnya. Kamu bukan tuhan penentu segala keputusan.
Sudah jam empat Nak, kapan-kapan mainlah ke rumah Ibu !” Ibu Titin merapikan segala tasnya, ia pun bangkit dan memelukku erat.

“Lain kali Marwah datang ke rumah dan saya mau dengar cerita suksesnya yah ! “ Saya mengangguk kecil. Siap !

***

Aduh, Ibu selalu ikuti loh perkembangan Marwah dari Facebook, Ibu juga suka dengar cerita dari teman-teman Ibu yang kebetulan teman Marwah juga. Duh, senangnya !” Ibu Titin meremas lenganku, matanya terlihat berkaca-kaca,

“Eh Nak! Jangan terlalu asik dengan semua segala kegiatanmu saat ini. Waktunya lagi naik level, gimana sudah ada calon?”

“Haha, doakan saja Bu!” Ibu Titin ikut tertawa. Pertemuan yang singkat tapi membahagiakan, setelah bertukar nomer telepon, kami pun jalan beriringan keluar Mall.

God will never give you anything you can’t handle, so don’t stress dear!

 


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “Ada Masalah? Coba Tuliskan!