#FF [5] : Berdialog dengan-Nya


Cuaca sedang cerah hari ini. Langit terang, sinar matahari pun tak panas, terhampar luas awan cirrus yang berlapis lapis tipis seperti bulu-bulu serat sutra halus. Sepertinya hujan tidak akan turun hari ini. Uap air sudah membeku menjadi kristal es yang sangat jauh dari bumi, lebih 8000 km. Bumi sedang bahagia,  tapi entah kenapa, suasana hatiku tidak.

 Motorku terus melaju dengan kecepatan standar.  Tidak cepat, tidak juga lambat. Sudah lebih 10 menit aku bergerak. Mengikuti kata hati pergi tanpa arah. Ada yang ganjil hari ini.  Hati sedang gelisah sejak pagi tadi. Sialnya, aku tidak tahu penyebabnya apa.

 Sudah ditengah kota. Aku masih terus melaju tak menentu. Aku diam, sedang mendengar berbagai percakapan dengan diri sendiri dalam otak. Seperti sedang bernegosiasi.

“Mungkin ada yang terjadi dengan orang dekatmu.”
“Ah, tadi sudah dihubungi, mereka baik-baik saja kok. ”
“Hmm. ..atau orang dekat yang bukan keluarga?”
“Huh.. mana ada?! kalaupun ada, dia siapa?”

Seperti dua jiwa dalam satu tubuh, aku berdamai dengan diriku. Mencoba mencari tahu penyebab kegelisahan yang terjadi.

Motorku segera ku belokkan. Tiba-tiba saja rasanya ingin makan eskrim. Yah, eskrim. Entah sejak kapan, aku selalu beranggapan dengan makan eskrim bisa mendinginkan suasana hati yang tidak jelas. Sampai detik ini pun penjelasan secara sains tidak kutemukan. Tapi yang jelas, satu hal yang akan ku cari ketika masalah menghampiriku adalah eskrim.

Rumah makan eskrim adalah tujuanku. Tiba-tiba saja muncul peta jalan tercepat dan terpintas menuju Rumah  Ice Cream milik Kak Niar. Yah Ice cream ini seperti narkoba bagiku. Begitu cepatnya aku merasa ketagihan untuk terus memanjakan lidah dengan eskrim.

Tidak cukup 15 menit, aku sudah tiba di Rumah Ice cream itu.

Ehh Fika, sendirian nih?”

” iya Kak. “

“Loh… kok kamu kayak kurang bersemangat gitu, lagi ada masalah yah? mukamu itu sepertinya butuh setrikaan deh. Kusut. haha “

” Ah… emang kelihatan Kak?”

“Aduh fikaa… Kamu yang galau begini seperti bukan kamu deh. Orang yang selalu ceria, tersenyum, semangat, tiba-tiba mendadak murung, galau, kusut, Yah kelihatan lah! Dan kali ini, sepertinya bukan diri fika lah !”

“Hehe, tidak Kak, Fika baik-baik saja, ya sudah Kak, eskrimnya donk 1 “

“baguslah, kalau merasa baik-baik saja baguslah. Eskrim mint chocolate kan?!”

“Yup ! makan di sini yah Kak ! “

 Kak Niar, penjual eskrim dan aku adalah pelanggan setianya yang sudah lebih satu Tahun.  Ada yang kurang ketika dalam satu minggu aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Kak Niar pun sudah hafal dengan rasa eskrim kesukaanku. Semua rasa sudah ku coba, tapi rasa mint chocolate itu memberikan kenikmatan tersendiri buatku.

Akupun segera duduk di teras rumah eskrim itu. Rumah yang dia sulap menjadi tempat nongkrong untuk menimati berbagai varian eskrim olahannya memang tempat andalanku. Aku betah duduk berjam-jam di rumah ini. Adem luar dalam. Interior rumah yang kebanyakan berbahan dasar bambu, menimbulkan susasana seperti sedang berada di desa. Berbagai pohon besar tertancap kokoh di sekitar rumahnya memberikan banyak udara segar. Suara-suara berbagai burung dalam sangkar yang warna-warni menjadikan musik instrumental alami. Letaknya yang bukan ditengah kota,  sedikit jauh dari hiruk pikuk kota ini. Belum lagi objek utama dari rumah makan ini, eskrim yang terkenal memiliki tekstur terlembut yang pernah ku temui.

“Ini eskrimnya fika ” Kak Niar mendatangiku secara langsung sambil membawakan satu mangkok berisikan tiga scoop eskrim mint chocolate. Dia pun mengambil satu kursi dan duduk di hadapanku.

“Aduh, kamu kenapa sih,kelihatan banget loh itu kusutnya dahsyat luar biasa, lagi ada masalah?”

“Engga kak, gak tahu nih, dari pagi rasanya lagi gelisah galau gundah gulana cetar membahana haha “

“Kamu ada-ada saja, hiperbola banget, haha.. . begini fika, apapun masalah kamu itu, satu pesan kakak, jangan tunjukkan sama orang lain. biarkan kamu dan tuhan yang tahu kalau kamu sedang sedih atau gelisah. Jangan di pamer-pamer lewat raut muka dan wajah lah. masa kamu lempar masalah kamu dengan memberikan pemandangan yang kurang menarik dari kamu. Siapapun orang yang lihat kamu, pasti akan takut, dan menghindar. Jangan – jangan kamu lagi PMS ?”  Tumben, Kak Niar lagi bijak hari ini. yah beberapa perkataannya masuk di akal ku.

“Haha, tidak PMS kok kak,  se-murung itukah wajahku kak?”

” Iya , kamu lebih tampak 5 tahun lebih tua, hahaha “

Kak Niar yang akrab dengan para pelanggannya memang sangat memperhatikan pelanggannya, menurutnya, Costumer is a friend . Jadi wajar saja ketika kak niar pergi ke Mall, akan banyak yang menyapanya, dia lebih terkenal dari pada pembawa berita di TV Lokal.

“Satu  lagi dik, kemarin kakak berbicara dengan seorang pelanggan, dia seorang ustadz, ustadz juga suka makan eskrim loh, haha… Dia bercerita, katanya ketika sedang bermasalah, atau gelisah, segeralah ambil air wudhu, gelarlah sejadah, dan sholatlah dua rakaat di 2/3 malam, lalu berkomunikasilah dengan Allah SWT, dengan cara membaca Al-Qur’an. Lembar demi lembar buka lah secara acak. Ajaibnya, ayat yang kita baca biasanya akan sesuai dengan keadaan kita saat ini. dengan begitu kita seperti sedang ‘berdialog’ dengan Tuhan. hmm. Katanya setelah itu akan ada sensasi yang membuat kita tenang dan bahagia. kakak sih belum coba, tapi boleh tuh dicoba dik, Ya sudah, jangan galau-galau, kakak tinggal dulu yah… “

Sambil tersenyum, aku mempersilakan kak Niar menemui pelanggannya yang lain. Akupun terdiam,

“berdialog dengan TUHAN? ”
“buka lembaran Al-Qur’an secara acak?”
“Emang bisa?”
“hmm…tapi gak ada salahnya dicoba “ 

Lagi-lagi percakapan terdengar jelas dalam diriku, sepertinya ada malaikat Roqib dan malaikat ‘Atid yang  sedang berdiskusi dengan jiwaku. Tapi siapapun itu aku menganggap kesimpulan dari rapat yang tak terlihat itu sebagai suara hati.

Langit malam pun tiba, menggantikan posisi langit sore. Biru cerah berganti jingga keemasan. Adzan maghrib pun terdengar, aku meminta izin Kak Niar untuk menunaikan kewajiban sholat maghrib.

Setelah semua urusan dalam Rumah Ice cream itu selesai, akupun pamit dengan Kak Niar, segera pulang ke rumah. Untuk pertama kalinya aku menunggu waktu tengah malam. Segera saja ku selesaikan segala urusan duniawi, lalu menuju kamar untuk tidur.

“Kriiiinggggg……” Jam alarmku berdering keras. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Biasanya, aku kalah dengan syaitan yang mengikat tengkuk kepala sebanyak tiga ikatan ketika kita sedang tidur. Tapi kali ini tekad untuk ‘berdialog’ dengan-Nya lebih besar. Akhirnya akupun bangkit untuk berwudhu dan segera mengerjakan shalat tahajjud. Maka lepaslah seluruh ikatan syeitan, dan Aku menang!

Malam itu juga, aku segera membuka lembaran Al-Qur’an secara acak, Mataku tertumbuk pada ayat 28- 29 dalam surah Ar Ra’d :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram ” (Ar Ra’d :28)

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik” (Ar Ra’d : 29)

 Shock! Aku kaget. Bacaan itu benar-benar memberikan solusi untuk ketenangan hatiku yang terjadi hari ini. Benar, kegelisahan itu sepertinya teguran untuk kembali terus mengingat-Nya selalu. Aku kembali membuka lembaran – lembaran yang lain.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit ” (Thaha : 124)

Dan kali ini adalah teguran atau peringatan. Sepertinya memang akhir-akhir ini aku disibukkan oleh banyak hal, waktu mengaji ku berkurang, shalat sunnah rawatibku mulai jarang sekali, shalat dhuha hanya sesekali, itupun jika waktu sedang longgar. Aku terlalu sibuk dengan berbagai agenda duniawi.

Allah Maha Mengetahui.

Aku pun (lagi) membuka lembaran lain .

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan ; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun” (An-Nuur :40)

Dan yang ini adalah ancaman bagi orang yang lupa diri. Naudzubillah min dzalik. Orang yang lupa atas Allah SWT, lupa berbagi, lupa kepada orang tua, lupa waktu sholat, lupa segalanya akan mengandalkan pikiran yang sedang panik dan hati yang kalut. Jelas tanpa petunjuk.

 Akupun semakin merinding, mengingat beberapa hari kemarin hal itu memang sempat terjadi padaku. Seharusnya mempersiapkan bekal menyambut datangnya Bulan Ramadhan, malah sibuk dengan duniaku sendiri.

Lagi,ku buka lembaran Al-Qur’anku secara acak.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa “ (Al-Baqarah : 183)

Kali ini aku benar-benar kaget, sepertinya Dia sedang mengingatkanku bahwa lusa adalah tanggal 1 Ramadhan, yang berarti tiba lah waktu yang dimaksud dalam ayat 183 itu.

Air mataku jatuh tak tertahankan, hatiku plong lega, bahagia. Benar, ada sensasi kebahagiaan tersendiri yang kurasakan. Tak tersadarkan, otot-otot di sekitar pipiku tertarik, menggambarkan senyuman kecil diwajahku. Kegelisahanku terjawabkan dengan cara berdialog dengan-Nya .


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *