#FF [2] : Cerita Kehidupan Rian. 4


“Aduuh… ampiuunn eiiimmm. Udah ah, takut bunuh diri eiimmm” Kak Rian yang duduk tepat dibelakang Nina tersenyum kecut pasrah mulai menyerah terhadap kertas putih didepannya. Tingkat kesulitan Scoring kali ini 2 kali lipat dari sebelumnya. Listening yang cepat dan ‘blebblebebeblebeb‘ serta soal reading yang pembahasannya berat benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu singkat.

“Udah Rian, aku juga nyerah nih ” Kak Zakky yang duduk di sebelah Rian ikut menyerah.

“iya,, eh pulang entar makan di Batok yuukk, Nina, Tasya, Dwi.. gimana? ikutan yuuk ..” Kak Rian benar-benar menyerah dan mulai mengalihkan pandangannya dari kertas putih itu.

“siipp kaak ” Nina yang baru saja menyelesaikan semua soal segera menyimpan lembarannya, diikuti dwi, dan aku.

“Sekarang aja yuk, udah laper nih. kita udah selesai juga kok.” sepertinya rasa lapar itu efek dari menjawab puluhan soal. Benar kata orang, berpikir atau belajar lebih lelah dari pada berlari. Setelah mengumpulkan lembaran itu, segera saja kami semua membereskan tas dan bergowes bersamaan menuju TKP.

Batok, salah satu warung makan favorite kami, khususnya Nina dan Dwi yang gemar susu jahe atau wedang jahe. mereka merindukan sarabba, minuman olahan jahe khas makassar,  yang tidak dapat ditemukan di kota ini. Menemukan minuman olahan jahe, walaupun sangat berbeda, di warung ini sedikit memuaskan mereka.

“Eh Kak Rian! tadi aku pagi aku ngeliat-liat foto di Ipad Kak Rian, ada foto di Vietnam, Thailand, Singapore, Malaysia, Kak Rian suka jalan-jalan ke luar negeri yah?”  Aku penasaran dengan banyaknya foto Kak Rian di berbagai negara.

“Iya tasyaa.. aku tuh backpackeran 3 minggu keliling 5 negara”

“Hah? 5 negara di Asia? Sama Siapa kak? ” Nina hampir tersedak mendengar kalimat itu.

“Sendirian aja eiimm, iya aku penasaran dengan keadaan diluar negeri, jadi keliling yang paling deket dulu, rencananya next mau ke India dan Sekitarnya”

“Haah? Masa? Sendirian kak?” aku menekankan kata itu. Aku memiliki impian ingin memperbanyak stempel berbagai negara dalam pasporku. Keliling asia tenggara, Thailand dan sekitarnya, adalah rencana yang pernah ku bicarakan dengan Nina. Kami masih dalam tahap menabung. Shock berat mendengar Kak Rian telah berfoto-foto puas di negara orang. Sedikit tidak percaya, karena dari covernya, Kak Rian adalah tipe “wanita manja” .

“Iyaa,, Sendirian,, eh engga, aku sama boneka aku”

“boneka?” Serasa nonton Mr.Bean dan bonekanya yang tidak pernah lepas darinya. Aku membayangkan Kak Rian menggendong sebuah boneka.

“iyaa, Aku tuh jalan-jalannya bukan jalan-jalan yang elit. Aku Backpackeran kok. Hemat eiim, hehe, Tapi Backpackeran yang cantik, aku cuman bawa 1 Ransel Hitam, isinya 3 baju kaos, 1 celana panjang,1 Set make up yang natural, 1 Set alat mandi, 1 setrikaan mini, 1 hairdryer.”

“Itu untuk 3 minggu ?” Kak Zakky mulai tertarik dengan pengalaman berani yang  tidak sesuai dengan penampilan lembut kak Rian.

“iyaa..jadi tiap hari tuh aku nyuci, kan baju kaos, jadi cuman di bilas-bilas gitu, baru jemurin, abis gitu besok paginya, keringin pake hairdryer, abis itu setrika deh, biar gak bau lembab gitu, pakein aja parfum, udah deh, cuus deeeh “

” Gitu aja? simple amat kak? jadi Entar mau ke India? ikut donk, aku pengen liat langsung pernikahan ala India” Dwi yang sejak tadi menyimak mulai ikut dalam pembicaraan

“Iyalah, masa mau ribet ribet eimm. jalan sendirian, gak kenal ini sama yang lain. Jadi Pede aja.. iyaa aku mau ke India juga. kalo gitu bareng -bareng yuuk..”

“iya iya, ayo, kapan? gimana kalo tahun depan?” Nina mulai semangat. India memang salah satu negara yang sangat ingin dia datangi.

“humm… tapi gimana yah caranya minta izin sama orang tuaku?atau nekat aja kali yah tanpa izin?” Aku langsung teringat orang tuaku. Kejadian ketinggalan pesawat di Negara orang kemarin cukup membuat ibuku jantungan. Padahal penumpang yang tertinggal di layani semaksimal mungkin dari pihak maskapai. Aku aman. Tapi, tetap saja ibuku hampir jantungan.

” Jangan.. jangan gitu, ntar kita jalan-jalan disana malah dapet masalah. Apalagi kalian itu wanita tulen, aku kan wanita palsu” kalimat ini membuat kami tergelak. Sejak pertama bertemu dengan kak Rian, Dwi ingin sekali menanyakan status jenis kelamin kak Rian yang sebenarnya, tapi takut dianggap tidak sopan.  Aku, Dwi dan Nina sering bergosip malam -malam di kamar.

“Kak Rian itu cewek atau cowok yah?”
“iya, pertama dateng dikelas, yang waktu rambutnya dia iket itu, yang pertama aku liat lehernya”
“kira-kira nanya dia waria atau bukan sopan gak yah?”
“blablabla”

kalimat yang menyatakan dirinya adalah “wanita palsu” membuatku sadar kalau dia ‘mengakui’ sebagai seorang wanita, tapi jasadnya adalah laki-laki. Kak Rian, bertubuh kecil, wajah putih bersih, kulit mulus , rambut berwarna perpaduan merah maroon dan hitam yang bergelombang indah sebahu. Kak Rian, nama lengkapnya Rian Suryanto, nama wanitanya Riani Suryanti, dan nama jawanya Meni dengan nama jawa lengkapnya ‘MenikmatiSuasanaMendungSoreIni’.  Dari berbagai foto-foto yang ku lihat lewat Ipad nya, Kak rian ketika berambut panjang akan tampak cantik, Lebih cantik dari wanita pada umumnya. Tapi ketika rambutnya pendek pendek cepak, dia akan terlihat sangat cakep. Dia seorang waria. Dia selalu mengenakan baju kaos atau kemeja dan celana panjang. Cukup simple. Gaya jalannya yang seperti jalan di atas catwalk, suaranya yang lembut,wajah dan rambutnya yang cantik. Menunjukkan kalau dia  “setengah wanita”.

“kalian harus minta izin ke orang tua, Kalian orang baik-baik, orang tua kalian juga pasti orang baik-baik. jadi jangan sampe kita bermasalah disana” Kak Rian mengatakan penuh ketegasan.

“Kemarin kak Rian minta izin orang tua?”

“Engga, aku gak punya orang tua. ” Suara Kak Rian mengecil.

“Hah? Maaf kak, maksudnya?” aku mulai penasaran, kalimat itu sepertinya lebih menarik dibahas daripada perjalanan ke India. Mata Kak Rian mulai berkaca-kaca. Dia meneguk air minumnya, dan menatap kami satu per satu. Dan mulai bercerita pengalaman hidupnya selama 25 tahun.

“iya gak papa kok dek, hmm.. kalian sudah aku anggap teman dekat. Aku suka berteman dengan kalian, kak Zakky, Nina, Dwi dan Tasya. Kalian berbeda dengan teman-temanku di jakarta, kehidupan di jakarta keras loh, pergaulannya American Style banget. aku tuh di jakarta hidup dari satu club ke club yang lain, ngedugem eimm, main-main terus. Aku kesini ini supaya aku bisa keluar dari zona nyaman aku dan mulai belajar. Suasana di sana susah untuk belajar eimm, baru buka buku eh ada panggilan ngedugem, ya udah aku cuss lagi. Aku mikir, sampe kapan aku mau bersenang-senang terus. Waktu jalan terus eimm, aku masih ada niat untuk lanjutin sekolah. Aku pengen tinggal di luar negeri aja.”

Orang baik-baik, kata-kata itu menjadi cap untuk kami. Tersenyum mendengar sedikit pembukaan dari kak Rian, salut akan semangat belajar kak Rian, yang berani meninggalkan lingkunganya mengejar impiannya.

“trus, Rian di jakarta tinggal sama siapa? maaf Rian? tau ayah ibu kamu gak?”  Kak Zakky ikut penasaran dengan perjalanan hidup wanita-jadian ini.

“Aku orang Medan, tapi 2009 kemarin, setelah wisuda di jurusan Komunikasi, aku ke jakarta, modal 600 ribu, mulut, dan koneksi. aku tinggal di jakarta sendirian. Lama nyari kerja, lewat temennya temenya temennya temen akhirnya dapet kerja. Di perusahaan kontraktor Papua.”

“600 ribu di tahun 2009? ih kecil banget itu kak.. hmm… emang  masa kecilnya dimana kak?”

“Iya modal nekat, modal ngomong, toh sekarang juga aku masih hidup . .. hmmm… soal keluarga aku, Aku gak tau ayah aku siapa dan dimana. Aku kecilnya tinggal sama Nenek. Masa kecil aku suram. Ibu aku menikah lagi dengan orang lain. aku gak pernah di cari. aku tinggal di rumah nenek. Om aku yang tinggal juga di rumah nenek sering mukulin aku. Selalu. Aku diam, dipukulin, digebukin. Dikit-dikit dipukul-pukulin lagi. Aku juga bingung, aku salah apa, kok dari kecil malah dikerasin. Aku benci banget sama om aku itu. kualat tuh sampe sekarang belum menikah.” Terlihat kemarahan dalam wajah Kak Rian.

“Hah? ngeri amat kak ibunya. kok tinggalin kak Rian? Dipukul-pukulin lagi?”

“eh ada yang lebih ngeri lagi, aku cuman dikerasin, tapi ada temen aku, ayahnya gak tau dimana juga, ibunya menikah lagi, dan dia ngakunya perawan, jadi si anak ini di umpetin kalau ada suaminya. malah kadang disuruh diam, disimpan dalam sumur, supaya tidak ketahuan. Capek selalu menyembunyikan anak, si anak dititipin juga di keluarganya baru pergi sama suaminya. Tidak dianggap. Huh.

Aku kecil juga gak ngerti, kok dipukulin mulu ya? mungkin pelampiasan kemarahan kali yah, untung nenek aku suka bantuin aku suka jagain aku, tapi tetep aja, dibalik nenek aku, aku seperti boneka. hmm.. mungkin juga dia gak terima aku lebih nyaman menjadi seorang wanita. aku benci om aku, aku benci ayah aku.” Kak Rian menunduk, terlihat matanya berkaca-kaca.

Kak Rian ternyata pernah mengalami hal berat.  Mendengar cerita tentang temannya yang sedikit lebih berat daripada kehidupannya, aku merasa, cerita itu adalah bagian dari pengalaman pahitnya. Masa kecil benar-benar mengerikan. Sangat berbeda dengan ku yang menginginkan waktu itu kembali. Kembali ke masa kecil yang menyenangkan.

“Kak Rian, sejak kapan , maaf, sejak kapan kak Rian menyadari kalo Kak Rian lebih nyaman sebagai seorang wanita?” Aku mengalihkan cerita masa kecil yang penuh kekerasan itu,

“hmm.. sejak kecil.kayaknya… Aku kan tinggal sama adik-adik sepupu yang semuanya cewek. aku main karet sama mereka. Kadang malah aku mandi sama mereka.”

“emang kak Rian gak marah kalo di ejek-ejekin gitu kak?” Nina memotong pembicaraan, pembicaraan tentang Kak Rian ini benar-benar menarik.

“Awalnya sih aku marah. tapi  lama-lama aku mikir, This is Me. Terserah aku dong aku mau ngapain. Hidup hidup aku.. badan badan aku..Lagian mereka yang ngejek aku belum tentu lebih hebat dari pada aku. Kenapa mesti dipikirin? terserah mereka aja mau ngejek mau ngetawain. Yang penting, aku jadi aku sendiri. Aku suka jadi cewek. aku mau jadi cewek. dan Aku adalah cewek !” Rasa kepercayaan diri Kak Rian nampak dari wajahnya. Senyum lembut sambil menyampingkan rambutnya membuat kami ikut tersenyum mendengarkan prinsip hidupnya.

“Jadi kak Rian, kalo suatu saat nanti menikah, Kak Rian nyari suami atau istri?” Dwi mulai penasaran

“Yaah Suamilaah,, aku kan udah bilang. aku ini wanita! .. nanti aku adopsi anak buat aku jadiin anak aku. Aku mau tinggal di luar negeri sama bule..” Kak Rian gemes dengan kami yang selalu mempertanyakan ‘ke-wanita-an’nya

“Rian jadi selama kuliah Rian kerja?”

“Iya kak Zakky, aku tuh nyari kerja. aku bilangin aja ke orang-orang, “Aku mau kerja, aku bisa ngapa-ngapain, kamu boleh ngasih aku kerjaan apa aja”, Aku mesti kerja untuk hidup. apalagi setelah SMA itu nenek aku meninggal. aku gak mau lagi tinggal di rumah itu, jadi aku pergi. pernah waktu kuliah, aku sakit tipus 2 minggu dirumah sakit eimm.. belum lagi mau ujian, dan saat itu, gak ada satupun keluarga yang bantu aku. Ibu aku pun gak nyari aku. Disaat sakit seperti itu aku benar-benar ngerasa sendirian. Jadi aku gak bisa tanggung hidup aku di orang lain. aku harus bisa mandiri. aku harus bekerja, Aku percaya, rejeki kita sudah ada kadarnya. Tinggal kita mau nyari atau engga.

Sekarang aku sadar, tiap orang harus punya skill, bisa memasak, bisa menjahit. oh iya minggu depan, setelah kelas kita, aku mau nyari kelas menjahit, aku pengen bisa menjahit. Biar kalau di negeri orang aku bisa menyalurkan jasa jahitan. Aku juga bisa motong rambut eimm.. aku juga bisa memasak. Biar nanti aku bisa masakin yang enak buat suami aku…” Kak Rian menyelesaikan kalimatnya sambil berkedap kedip nakal.

Langit mulai gelap, azan maghrib mulai terdengar. kami pun diam menyimak kalimat Allah. Kak Rian, seorang laki-laki yang cantik dan lembut, ternyata memiliki kehidupan yang tidak selembut dirinya. Seandainya aku menjadi kak Rian, entahlah, mungkin aku memilih gantung diri di Monas.

“ya sudah adik. Abis Maghrib aku ada kelas, Kelas mengaji. “

“hah? Kak Rian belajar ngaji? “aku kaget. Salut dengan orang yang selalu memperbaiki imannya. Setelah kehidupan yang sangat keras, mungkin sebagian orang akan menganggap Tuhan tidak adil. Tapi ternyata,  Kak Rian  justru mendekatkan diri Pada-Nya.

“Iya, sekarang aku udah iqro 5 donk !” Terlihat jelas kebahagiaan Kak Rian sudah mampu mengaji membedakan huruf.

Kami tertawa sekilas, lalu bangkit, waktunya bergowes kembali ke rumah masing-masing.

“Tasya, aku masih penasaran dengan sisi kehidupan Kak Rian. Unik dan sangat menyadarkan untukku.” Nina yang berdiri disampingku berpendapat.

“Aku juga Nin, “

aku berjalan pelan menuju kamarku.. hari ini dapat banyak pelajaran kehidupan dari Kak Rian. Dibalik manisnya sikap kak Rian, ternyata ada kisah pahit yang memilukan hati. Sikap kak Rian yang penuh kelembutan, kemanjaan, dan keceriaan tidak pernah menggambarkan kehidupan yang bertolak belakang dengan sikapnya itu.  Dengan berbagai pengalamannya, Kak Rian justru terlihat sangat menikmati hidupnya.

Anak kecil itu lucu yah? kok masa kecil aku gak lucu yah?” terngiang kembali pertanyaan Kak Rian tadi yang hanya aku balas dengan senyuman.

———————————–

Tulisan ini termasuk dalam “permainan menulis” bersama teman keren yang sama-sama ingin belajar menulis #CeritabulanMei 


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “#FF [2] : Cerita Kehidupan Rian.