#CeritaUUD [1] : HILANG ! 5


Makassar Town Square, kalau warga Makassar Pasti tau. Itu loh.. mallnya Makassar yang terletak  di Tello. Hmm..kalau dilihat dari luar, MTOS ini menyerupai UFO yang jatuh dari planet lain. Design nya menarik . Luasnya, lumayanlah, tapi masih menang Mall Panakukang Makassar.

Cerita kali ini bukan tentang Mall mana paling bagus, tapi tentang kisah nyata adik kecilku di MTOS beberapa tahun yang lalu.

Pada suatu hari -ehm seperti sedang mendongeng- Pada tnggal 27 july 2008 – Ups..seperti lagi baca berita – Okelah. suatu saat, aku dengan dua tanteku, tante Linda dan tante Nana mendapatkan  tugas untuk mengajak jalan-jalan adik sepupuku  ke MTOS, totalnya, mereka itu lima orang.

  1. Fika : cewek kalem nan manja, yang kalau dibilang gak cantik dia bakal nangis, umur 9 tahun.
  2. Eil : cowok item manis, adik kandungnya fika. Dia punya ciri khas kalau lagi tidur pasti matanya gak merem -ko bisa ya?- umur 7 Tahun.
  3. Sinar : cewek tomboy yang kakinya tidak berhenti berjalan, umur 6 tahun.
  4. Uud : adekku, adik kecilku yang superduper hyperactive -kaya gimana tuh?- cerdas, lucu,crewet serta baik hati dan rajin makan ice cream, umur 5 tahun.
  5. Dila : cewek pemberani yang lumayan ganas kalau marah plus menangis, tapi dengan rambut ombaknya dia tampak manis minta ampun, umur 2 tahun.

Mereka berlima lagi kambuh berat mau main di Timezone.

Dan sesampainya di MTOS, Tante Linda membagikan tugas Negara untuk kami :

  1. Tante Linda, memegang anaknya sendiri : Dila
  2. aku, memegang Uud yang selalu menempel dengan Eil.
  3. Tante Nana, memegang sinar.”karena satu- satunya yang mampu mengatasinya”
  4. Dan Fika jalan mengikuti rombongan.

—–Timezone—-

Tiba di Timezone, lantai 3 MTOS, suasana langsung ricuh, ada yang mau main bom-bom car, main balap-balapan, main tembak-tembak, main macem-macemlah. Seperti haram pulang kalau belum memainkan semua mainan itu. Setelah satu jam bermain, adik kecilku berjalan ke area belakang timezone.

“kk nunu, uud mau main itu donk.”

Tangan kecilnya menunjukkan arena main yang ramai dengan anak kecil seumurannya.

Ada perosotan, ada kolam bola, ada terowongan2, dan sejenisnyalah. Tepat diatas pintu masuk yang terkunci ada tulisan :

TEMPAT PENITIPAN ANAK

Tanpa aba-aba aku mendekati tante Linda, memberitahu arena itu. Satu anggukan artinya setuju, dengan segera aku membeli tiket masuk Rp10.000/orang. Total 5 tiket. Setelah terpasang rapi di gelang tangan masing-masing, para bocah berhamburan memasuki arena itu.

“Pak..berapa lama anak-anak main disini pak?” aku mendengar tante Linda bertanya satpam penjaga pintu masuk arena.

“Satu jam bu, jadi jam 5 ibu bisa kembali ke sini ya bu..” penjelasan pak satpan jelas, dari pada hanya duduk diam menunggu, akhirnya kami berinisiatif untuk keliling MTOS cari baju selama satu jam. Toh ada bapak satpam, pasti aman terjaga.

——Di Ramayana—–

“ duh..naa…saya mau beli baju buat dila…bla..bla..bla…” tanteku sibuk mencari baju untuk anaknya, beliau berbicara panjang kali lebar samadengan luas dengan tante Nana, aku diam, sesekali mengangguk ketika disodorkan baju “bagus atau tidak?”. Berjalan mengikuti mereka berdua sambil diiringi lagu James Blunt – You’re beautiful– yang menyanyi dan hanya terdengar di kedua telingaku.

Tak lama kemudian,

“Nuu, jam berapa sekarang ? udah satu jam ya? Kok rasanya tante Linda gelisah yah? Jangan-jangan ada apa-apa dengan Dilla, abisan dia tadi lagi rewel sih.”

“wah iya tante lin, dah jam lima. Balik ke Timezone yak tante Lin.” Tante ku mulai merasakan feeling buruk. Keasyikan belanja membuat lupa waktu. Setelah membayar, segera naik 1 lantai. Kembali menjemput Bocah.

——–Tiba di “TEMPAT PENITIPAN ANAK”———

Astaghfirullah…. aku terdiam, tak ada satupun wajah di dalam arena tersebut yang aku kenal. Kelima bocah tersebut tidak ada di dalam. Spontan, aku teriak.

“TANTE LIIN,, HILAANG!!!”

Parah. Benar-benar kacau. Inilah akibat ketika lupa kewajiban. Dunia serasa semakin cepat berputar, darah mengalir deras dalam tubuh, jatungku berdegung cepat dua kali lipat. aku panik.

“Nunu cari di lantai 1, Nana di Lantai 2, dan nanti saya cari di Lantai 3 kabari kalau sudah ketemu!” tanteku mulai pucat, kebayang kehilangan itu rasanya pasti sangat menyakitkan. Apalagi kalau disebabkan karena keteledoran sendiri.

Berlari, aku segera menuruni tangga escalator ke lantai dasar. Melihat kesana kemari, mencari pada bocah. Mereka berlima, tapi kenapa tak ada satupun yang terlihat? Tiba-tiba saja pikiran buruk muncul.

  1. Bagaimana kalau mereka menyebar pasti bertambah sulit untuk mendaptkan mereka.
  2. Bagaimana kalau ada yang menculik mereka? Entah akhir-akhir ini di berita sering muncul berita tentang pencurian anak.
  3. Bagaimana kalau ada yang kebelet pipis?
  4. Bagaimana kalau Dilla mengamuk? Dengan suaranya yang membahana, bisa-bisa runtuh ini  gedung.
  5. Bagaimana kalau Sinar terus berjalan tiada henti? Jalan kemana mereka?

Tiba di lantai dasar, tujuan pertama : segera ke tempat informasi.

“Mbak.. mbak.. bisa minta tolong? Infokan ini yah : Kepada adik fika, eil, dilla, uud, dan Sinar, harap ke tempat Informasi’’

Si mbak bengong ..

“Ehm…mbak..tolong diinfokan secepatnya.kalau bisa diulang sampe tujuh kali.. angka tujuh tuh angka keberuntungan lo..kalau behadapan ma Allah aja ada yg 7 kali..kaya tawaf,sai,dll…jd mba…usahain 7 kali yak…MAKASIH…”

Setelah memberikan senyum termanisku untuk mereka para tukang ngomong di MTOS. Aku segera mengambil langkah seribu dan memasang mata baik-baik.

But, the next problem is, I forgot my Glasses.  Aku baru sadar kalau tidak memakai kacamata dari rumah. Dan of course membuatku jadi susah setengah mati untuk melihat jarak jauh, mata harus disipitkan sesipit mungkin untuk melihat hal jauh.

Keliling di lantai dasar, nihil. Seperti dibisikkan oleh Malaikat, tiba-tiba muncul ide cemerlang, “Tanya Security Mall

“Mas…mas…liat anak kecil rombongan.skitar 5 org 1 memakai jilbab..yang lain tidak?!”

“oh…yang itu. barusan aja turun lewat escalator itu”

Teeeng.. satu clue diperoleh. Mulai tenang dan mencari kembali. Dari bapak Security itu aku tahu,

  1. Mereka, para bocah ada dilantai dasar ini.
  2. Mereka masih hidup
  3. Mereka tidak berpisah
  4. Mereka tidak pergi ke tempat pijat refleksi ataupun ke salon

Dan tiba-tiba..

“kak nunu telpon..kak nunu telepon…kak nunu angkat telponnya”

Suara rekaman adik bungsuku itu terdengar, rekaman yang jadi ringtone hp ku, tante Linda menelpon, Semoga kabar baik.

“..Nu udah ketemu. Di tempat parkir..skarang tante lin tunggu disini..”

Alhamdulillah ya Allah, engkau masih menyayangi hambamu ini, aku tidak ingin secepat ini kehilangan adik bungsu yang super cerdas itu. Seperti dikejar anjing, aku berlari menuju tempat parkir.

Tiba di sana, Uud langsung loncat…

”K NUUNUUU…K NUUUNUUU…..” bug..bugg.. bugg.. adikku memukul tubuhku..

“ k nunu jahaat sih…tinggalin uud sama anak2 semua..” adikku mulai marah, untung saja dia tidak menangis.

“uh…sorry deh uud..jangan bilang2 ma ummi ya..tar k nunu di marain.. nanti kakak nunu belikan uud Ice Cream yaa mau berapa? 1 ato 5? ”  aku memeluk adik kecil ku itu, menyogok Ice Cream supaya tutup mulut, mengajak kompakan. Biasanya kami kompak.

“eh k nunu..uud tadi berdoa lo..”

“ha? Doanya apa?”

Dengan gaya yang amat sangat serius….“ya Allah lindungilah kami..kami hilang…lindungilah ummi, baba, k nunu, tante linda..tante nana…bla,,,bla,,,bla..” Semua nama-nama dikeluarga besarku di sebutkan. Aduuh…dasar uud. Sepertinya doa nya terbalik.

Keesokan harinya…

Setelah dengan kejadian kemarin, uud masih bisa kompromi, dengan satu syarat, Ice Cream. Siang itu, aku mengantar ibuku ke rumah keluarga, silaturahmi keluarga, maklum 3 tahun sekali dia ada di Makassar ini.

Mobil melewati MTOS, tiba-tiba uud yang duduk didepan langsung berdiri. Teriak dengan bangga.

“ Ummi..ummi…uud pernah hilang disini loh…uud sama anak2 aja…k nunu si…tinggalin uud..

“APAAA..?”

Gubrak.. mampus deh gw

adik bungsu ku ketika berumur 5 tahun.


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar

Leave a Reply to Imam R_ Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “#CeritaUUD [1] : HILANG !

  • Imam Rahmanto

    Wah, seru juga nyari anak hilang. Untung mereka anak kota. Coba saja anak dari kampung yang baru kenal namanya mall, bisa lebih parah. *Ingat diri sendiri zaman kecil dulu #ehh

  • Imam R_

    Lucu juga kalau nyari anak hilang. Untung termasuk anak kota. Coba kalau mereka anak luar kota yang baru pertama masuk mall, bisa lebih parah. *Ingat diri sendiri zaman kecil dulu #ehh _ _”