#CeritaUUD [8] : Mendadak Jakarta 6


Selamat Berpuasa !

Sudah tepat tahun ke-10 saya berpuasa tidak bersama orang tua. Sejak tahun 80-an Abah saya merantau bekerja sebagai arsitektur di Aljomaih Company, perusahaan arab. Pulang ke Indonesia setahun-dua tahun untuk menikah. Lalu dibawalah Ummi ikut ke Riyadh, hingga saya bersaudara lahir disana. Demi pendidikan, di tahun 2005 saya kembali ke Indonesia.

Ramadhan ini seharusnya saya sudah berada di Riyadh bersama mereka melewatkan bulan suci ini. Sulitnya pengurusan visa di waktu-waktu berharga bagi umat muslim – Bulan suci Ramadhan dan Bulan Dzulhijjah- menjadikan keberangkatan bertemu mereka ditunda. Mungkin hingga setelah bulan haji, atau mungkin sekalian tahun depan, atau mungkin di waktu yang entah kapan.

Lebaran kali ini pun demikian. Hanya berdua dengan kakak seperti tahun-tahun sebelumnya. Untung saja banyak keluarga disini, saudara dari Ummi dan Abah silih berganti memanggil untuk memakan burasa’ dan kari ayam, makanan khas Hari Lebaran.

Hari pertama, saya sahur bersama kakak dan adik, tidak lupa saya memanggil Arra dan Amoy. Dua bersaudara yang sudah saya anggap adik.  Nasib kami sama, ayah dan ibunya juga bermukim di Arab Saudi. Orang tua mereka berasal dari Pinrang, Ummi dan Abah lahir di Parepare, dua kota yang bertetangga. Bertemu saudara sekampung di negeri orang merupakan suatu kesyukuran. Sejak kecil kami bertetangga di Riyadh, juga saat kami pindah ke Makassar rumah kami pun berdekatan. Tahun ini Amoy pulang ke Makassar untuk melanjutkan kuliah dan karena mereka tinggal tak jauh dari rumah, saya mengajak Amoy dan kakaknya untuk sahur bersama.

Jam 01.00 dini hari, teleponku bergetar, nama ummi terlihat jelas dilayar, panggilan untuk Video call dengannya. Pembicaraanku dimulai, terlihat jelas kebahagiaan Ummi, karena kami berkumpul berlima, sahur bersama. Ummi pun memberi saran untuk masak sahur nanti. Sup ayam, perkedel jagung, ikan asin, dan tempe sebagai menu sahur puasa pertama ini. Setelah berbicara sekilas dengan Ummi, si adik pun mendominasi, Uud, si adik bungsu yang masih tinggal bersama Ummi dan Abah di Riyadh, selalu penuh dengan cerita.

“ Fotonya uud
dong! yang siluet-siluet itu, tag-in di Facebook!”, Sistem limbik pun bekerja,sebuah bagian dalam otak yang akan memberikan rasa bahagia dihati. Senyum merekah, melihat adik kesayangan bermanja-manja meski hanya melalui layar.

“ Oh iya, duh kak nunu suka lupa, sebentar yah kak nunu upload”
” Uud maunya sekarang kak. SEKARANG. SEKARANG. PLEASEEEEE

Jurus andalannya keluar, memohon dengan wajah imut yang membuat saya tidak tega menolak. Langsung saja saya iyakan, dan dia meloncat kegirangan. Kami jauh, tapi teknologi membuat seolah kami tak berjarak.

Malam masih panjang, imsak masih lama, sambil menuggu waktu untuk persiapan sahur saya langsung menyalakan laptop, memilih foto-fotonya untuk dikirim. Sambil memilih foto, ingatan pun kembali ke masa itu.

IMG_0737-01

*

21 Maret yang lalu. Belum pudar rasa kaget karena tiba-tiba Ummi, Abah, Uud ada di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kedatangan yang tidak direncanakan, Maret berbahagia. Mereka sangat jarang ke Indonesia. 1, 2, atau bisa 3 tahun sekali. Kalaupun datang, paling lama 2 pekan, dan mereka kembali lagi ke Tanah Arab.

Setelah satu hari menginjakkan kakinya di Makassar, tiba-tiba Uud meminta ditemani ke Jakarta. Dia menggunakan jurus mautnya dalam merengek minta ditemani ke Jakarta, selalu begitu.  Ada perlombaan katanya.

“Ini tujuan uud ke Indonesia kak nunu, Uud mau ikut lomba Maincraft

10926206_841765685887362_3524344983671587835_n

Minecraft  yang kalau saya lihat, seperti lego digital. Permainan yang menyusun kubus, kubus tersebut bisa dipilih materialnya dari apapun, lalu dijadikan suatu bahan bangunan tiga dimensi. “Permainan yang mengasah kreativitas” begitulah penjelasannya uud.

Memang dari berbagai karya-karyanya dalam membuat bangunan selalu membuat kami terpukau. Abah saya seorang Arsitek. Adik saya, huda, kuliah  di Jurusan Arsitek. Tapi Uud dengan berani selalu mengomentari desain dari Abah dan Huda, “Masih kerenan Uud, Abah desainnya arab banget. Kotak-kotak kurang variasi. Kak huda selalunya bikin rumah Indonesia, yang segitiga atapnya. Uud bisa gabungin keduanya” Kalimat itu mengundang gelak tawa seisi rumah.

PhotoGrid_1435096098167

Saya masih ingat, Hari Jum’at mereka tiba di Makassar, dan Sabtu siang saya sudah terbang bersama Uud ke Jakarta. Untuk pertama kalinya saya jalan berdua dengan bungsu keluar kota. Di Pesawat, dia duduk tepat disamping jendela. Ketika sudah di antara awan, tiba-tiba si Uud mulai bertanya.

Kak Nunu, gimana yah kalau satu jendela pesawat pecah, kok bisa jatuh yah pesawatnya? Karena apa yah?

Kak Nunu, inikan pesawatnya dari besi ya, kan berat. Kok bisa terbang yah?


Kak Nunu, luar angkasa kan tidak ada oksigen, jadi seharusnya api tidak bisa menyala kan? Tapi adakan planet yang dikelilingin oksigen selain bumi, apa lagi, duh uud lupa


Kak Nunu, kalau ada perang, orang yang punya kemampuan anti gravitasi dengan manusia yang dipengaruhi gravitasi bumi kira-kira gimana ya?

Alisku pun menyatu, mulai lagi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijelaskan dengan detail. Materi fisika, kimia pun mulai ku aduk-aduk dalam otak. Dua jam di pesawat tidak terasa karena pembicaraan seputar pesawat, film, hal mistis, dan tata surya yang lebih banyak didominasi oleh dia.

Setibanya di Jakarta, langsung menuju Monas.

Woaaaahhh Keren banget Monas! Kak Nunu, itu lampunya kok bisa warna-warni gitu ya? Masa dindingnya yang berwarna? Dalam waktu beberapa menit, warnanya berganti. Cara kerjanya gimana yah? Oh itu cahaya lampu, tapi cahayanya dari mana ya?“

Pertanyaan yang dia jawab oleh dirinya sendiri. Sayapun bersyukur. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar secara teknis.

Keliling monas membuat dia lupa waktu, bahagia melihat “Indonesia lebih nyata”, Apalagi ketika dia melihat orang berpakaian ala hantu Indonesia –kuntilanak, pocong, dan sekawanannya- berkeliaran di Monas. Untung saja dia tidak bertanya perihal sejarah keberadaan mereka. Ah saya tidak tau bagaimana cara menjelaskannya 😀

Lelah bermain-main, kami mencari tempat makan terdekat.
“kak nunu, Uud mau makan KFC, Uud kangen KFC Indonesia, nasinya lebih enak “

Fast food seperti KFC juga ada di Kota Riyadh, tapi menunya berbeda, mereka menggunakan roti sebagai pengganti nasi, Kami pun makan KFC. Benar saja Uud hanya  memakan nasi, dan saya menghabiskan 2 ayam. Haha 😀

*

Hari perlombaan pun tiba, Diantar oleh paman, kami menuju lokasi lomba. Itu pertama kalinya dia mengikuti ajang perlombaan. Minecraft Competition yang diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia. Terdapat dua kategori, PC dan Tablet. Peserta lomba lebih dari 60 anak. Sempat bermasalah dengan urusan administrasi registrasi. Peserta diwajibkan membawa kartu siswa dan Uud meninggalkannya di Riyadh. Setelah bernegosiasi dengan panitia, masuklah dia ke area lomba.

Waktu yang diberikan 45 Menit, dengan tema Modern House/Building, Exterior Only dan plot 25 x 25. Tangan si bungsu pun dengan lincah memainkan keyboard dan mouse. 45 menit kemudian, jadilah bangunan keren karya Uud.

PhotoGrid_1434603298886

Waktu pengumuman pun tiba. Jantung saya ikut berdegup kencang. Tiga nama disebut. Tapi sayang, tidak ada nama Mahmud Asrul,  dia pun menoleh, saya memberi isyarat bahwa dia mengikuti lomba saja sudah hebat. Selesai acara saya menyempatkan diri ke panitia, penasaran adik saya urutan berapa. Ternyata dia peringkat ke-4. Nilainya beda tipis dengan yang ketiga. Kekurangannya, dia tidak memasang lantai rumah.

“Uud kira lantai itu termasuk interior kak” sayapun terbahak. Mungkin dia harus sering-sering melihat rumah Indonesia. Di Arab Saudi, sangat jarang ditemukan rumah dengan lantai tegel beragam. Seluruh area rumah menggunakan karpet. Dan karpet adalah interior rumah.

Peringkat ke -4 itu sudah hebat. Mengalahkan 60 peserta yang jauh diatas umurnya. Ketiga pemenang sudah kelas 3 SMP dan dia masih kelas 6 SD. Uud Hebat !

Selesai Lomba, paman menjemput kami, pulang dan bersiap untuk kembali ke Makassar. Di tengah perjalanan, paman membelikan langsat. Sebagai kakak yang baik, saya mengupaskan kulitnya dan langsung berikan kepada uud. Setelah banyak yang dia makan, saya tersadarkan sesuatu, dan kemudian bertanya,

“Uud bijinya buang dimana?”

Dengan polos dia menjawab : “Oh dibuang yah? Uud telan semua, pantesan pahit.“

Uud, rajin-rajinlah ke Indonesia Dik 😀

PhotoGrid_1434562899939

 


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 thoughts on “#CeritaUUD [8] : Mendadak Jakarta