#FF [18] : Minta Maaflah ! 2


Apa yang harus aku lakukan? Meminta maaf? Tapi sepertinya gengsiku lebih besar dari pada itu.

Jam digital sudah menunjukkan angka 23.14, sudah di kasur berselimut dan sudah ada boneka yang jadi guling diantara kedua kaki. Salah satu kebiasaan mau tidur, harus ada banyak bantal atau boneka disekitar.  3 atau 4 boneka ada dikasurku belum lagi bantal kepala dan bantal guling, padat! Kalau tidur, ada yang kupeluk, ada yang kutendang, ada juga yang ku timpa. Tak jarang ketika pagi setengah dari mereka sudah jatuh disekitar tempat tidurku. Memeluk boneka ketika akan tidur adalah salah satu kebiasaanku dari kecil. Kali ini boneka buaya berwarna hijau kuning dan lucu serta tak mengerikan  yang panjangnya lebih 1 meter – dengan ekornya- kujepit dikakiku.

Mataku masih segar,  jari-jari bermain diatas layar telepon genggamku. Aplikasi messenger berwarna hijau itu menghubungkanku  dengan kawanku, yang sedang berusaha berdamai antara logika dan hati. Ini sudah malam ke sekian bercerita dengannya sebelum tidur. Sany, salah satu teman yang 75 % cerita hidupnya sama denganku, itulah yang membuat kami nyaman bertukar cerita. Kali ini dia bercerita tentang pertemuan dengan cinta pertamanya -setelah bertahun-tahun tanpa kabar- dan saat ini dia masih memiliki rasa yang sama,  katanya.

Dia pun berkisah, tentang masa SMA yang membahagiakan. Saya sepakat dengan ini. Masa putih-abu abu bisa dikatakan masa keemasanku. Penuh prestasi dan penuh cerita. Kisah cinta pun seperti batagor renyah andalanku, beragam isinya dan nikmat rasanya. Pernah menerima sesorang karena tidak tahu caranya menolak, lalu putus karena takut masuk koran, pernah memiliki seseorang secret admirer yang selalu menyimpan permen milkita coklat dan strawberry dalam laci kelas, dan kisah – kisah lain yang terjadi dalam satu waktu.

“ Raa.. Bagaimana ini? Kesalahannya dua malam kemarin rasanya bikin gemas. Seharusnya dia yang meminta maaf, kau tahu, aku menunggunya di pertokoan hingga pukul 10 malam. Kalau saja tidak ada batas waktu tempat itu ditutup, mungkin akan lebih lama lagi.  Naik lantai 2 berputar, lalu ke lantai 3, memasuki toko satu per satu, setelah itu kembali ke lantai dasar. Gara-gara menunggunya, aku pun punya kenalan baru, penjaga toko baju, Santi namanya. Kuminta padanya untuk menyimpankan 1 dress yang cantik sekali, akan kubeli jika ada uangku nanti. Ara.. sejak jam 6 kutunggu, dini hari baru dikabari. Memohon maaf karena tertidur katanya.”

“Nah dia sudah minta maaf, terus?”

Ceritanya dia lanjutkan, permasalahannya disini. Sany gemas-dia minta maaf- Sany masih  kesal – dia jadi marah balik hingga mengeluarkan kalimat yang menusuk- Sany pun kebingungan.  Sebenarnya sederhana, wanita yang mau dibujuk.

“Ra, besok hari terakhirnya di kota ini, kalau saya diamkan mungkin tidak akan bertemu lagi hingga waktu tidak ditentukan. Padahal kemarin dia sempat mengajakku berbuka puasa. Terkadang gemas tanganku untuk memulai chat, tapi gengsiku lebih tinggi. Masa’ saya yang memulai dan meminta maaf karena sudah membuatnya marah. Seharusnya dia dong!”

Kakiku bergerak kesana kemari, tanpa kusadari bonekaku sudah jatuh dari kasur.  Segeraku ambil kembali sekalian memberikan tambahan daya untuk androidku. Sepertinya cerita sany masih panjang.

Permasalahannya adalah memulai pembicaraan, terkadang memang bingung, sekedar menyapa halo-halo-hai atau selamat pagi- siang- sore-malam agak kaku disampaikan karena pertengkaran kemarin. Dia tipikal orang yang sedikit bicaranya. Kalau sapaan begitu akan dibalas dengan sapaan juga. Lalu percakapan terhenti. Sany pun menjadi gelisah-galau-gundah gulana.

Sany termasuk orang yang periang dan selalu banyak cerita, tapi dihadapan orang tempat hatinya jatuh membuat jantungnya berdetak lebih cepat, pipi merah merona, dan semua kata hilang. Area broca *dalam otaknya mendadak bermasalah. Efek jatuh cinta katanya.

Seorang teman akan memberi masukan yang ‘harus’ dia dengar kan? Bukan larut dalam curhatannya dan meng-iya-iya-kan segala keluh kesahnya.

Seperti menulis surat, kusampaikan perihal melawan gengsinya dan kugambarkan juga respon yang memungkinkan terjadi.

“Oke, ikuti gengsi, abaikan dia dan besok dia pulang. Kegalauanmu akan bertambah derajatnya. Komunikasi terputus,  kesempatan bertemu akan hilang, dan sampai jumpa di waktu yang tidak ditentukan!

Atau, kabari saat ini. Kau yang memulai, minta maaf karena membuatnya marah kala itu, mungkin dia merespon, kalau responnya baik. Komunikasi jadi lebih lanjut kan. Legalah sedikit bagian di hatimu.

Tapi kalau responnya negatif, dia tetap marah karena sikap kekanak-kanakanmu, setidaknya kau tau kan, dia mau serius atau tidak denganmu, dia pantas ditunggu atau tidak untuk jadi teman hidupmu, jadi gak usah salahkan diri, kalau benar-benar dia serius, seharusnya dia menerimamu apa adanya. Ya kan?

Untuk semua hal ada pilihan kan, kau memilih diam atau bergerak. Kalau diam, jelaslah tidak akan ada perubahan. Bergeraklah, supaya tahu langkah selanjutnya”

Percakapan terhenti, sudah masuk jam dini hari waktunya mengistirahatkan diri.

*

Keesokan harinya,

“Raa. Chatku dibalas. Katanya tidak masalah dengan yang kemarin, dia malah mengajakku berbuka puasa sebelum dia kembali ke kotanya. Aduh, jantungku semakin cepat. Bicara apa nanti? Bahas apa? Duh sepertinya akan jadi menjadi patung nanti. Pakai baju apa sebentar? Sepatu warna apa? Duh jilbab andalanku lagi dicuci. “

Aku tersenyum simpul, ah wanita memang seperti itu, terkadang harus membongkar lemari sebelum  bertemu pujaan hatinya.

Karena meminta maaf tidak mengurangi harga dirimu, kan?


 

*Area broca : area dari otak  yang berperan dalam kemampuan bicara.


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “#FF [18] : Minta Maaflah !