Mari Makan Pelan-Pelan ! 2


 “Kalau makan jangan terlalu terburu-buru! Mengunyahlah hingga 32 kali

Salah satu teman dikenal dengan ciri khasnya, makan yang cukup lama. Saya pernah menghitung jumlah mengunyahnya, sekitar 30-40 kali.  Tidak ada yang salah dengan mengunyah yang cukup lama, justru memang sebaiknya mengunyahlah hingga makanan halus.

Mulut adalah area utama makanan masuk kedalam tubuh. Rongga ini dibentuk oleh bibir yang mengandung otot sehingga membantu mengambil, menuntun, dan menampung makanan di mulut. Bibir berperan penting dalam berbicara, bentukan bibir mempengaruhi artikulasi banyak bunyi. Monyongkan bibir, pasti tidak akan dapat mengucap huruf “I” dengan jelas. Selain itu, bibir juga merupakan area dengan reseptor  sensorik –sel saraf yang membawa sinyal dari bibir ke otak- yang paling tinggi dalam merasakan sensasi taktil (sentuhan) yang tinggi.

Cerita soal bibir, saya jadi teringat kisah teman dengan ke-gagalfokus-an nya yang khas. Suatu ketika dia ingin memakai lipstick, tetapi dia salah mengambil benda dalam tasnya. Baru sadar ketika terasa perih di bibir. Dia menggunakan minyak-minyakan aromatherapy, bukan lipstick. Haha 😀

Kembali ke permasalahan kunyah-mengunyah.  Ketika hal ini terjadi, banyak bagian dalam mulut yang bergerak secara teratur. Seperti sebuah pabrik yang berkerja sesuai tugasnya masing-masing. Langit-langit (palatum) membentuk atap dari mulut. Memisahkan dari saluran hidung. Uvula, sebuah tonjolan yang menggantung dari langit-langit –yang menyerupai bantalan alat latihan para petinju- berperan penting dalam menutup saluran hidung sewaktu menelan. Lidah pun sebagai “karpet” dalam mulut, terdiri dari otot rangka yang terkontrol. Lidah akan menuntun makanan sewaktu mengunyah dan menelan. Berperan penting juga dalam berbicara. Juga tempat merasakan nikmatnya masakan. Sel reseptor (sel saraf) kecap tersebar di lidah ini, sehingga asam-asin-manis-pahit suatu makanan dapat terasa.

Gigi berperan penting dalam mengunyah, deretan gigi akan melakukan proses penggirisan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan. Bayangkan jika mengunyah dalam hitungan detik, entah bagian mana yang akan terlewatkan. Fungsi mengunyah sebenarnya adalah untuk memecahkan makanan hingga kecil dan halus agar lancar dalam proses-proses selanjutnya. Mengunyah juga seperti mengaduk-aduk makanan agar tercampur dengan liur (saliva).

Liur (saliva) bukan sekadar air dari mulut karena saliva ini memiliki banyak fungsi.  Dalam buku Fisiologi Tubuh , Lauralee Sherwood, memaparkan hingga 7 Fungsi.  Sebagai awal  mula pencernaan karbohidrat melalui enzim amilase -pemecah karbohidrat-, sebagai benteng pertahanan pertama oleh enzim Lisozim –penghancur bakteri yang ikut dalam makanan-, sebagai pelumas untuk segala aktifitas dari bagian mulut yang lainnya, termasuk bahan pelarut untuk lidah agar kuncup kecap terasa. Selain itu liur juga berperan dalam berbicara, agar bibir dan lidah gampang geraknya. Keringkan mulut, kita akan sulit berbicara. Liur juga berperan dalam hygiene mulut.  Terakhir, sebagai penetral asam dalam makanan, agar gigi tetap sehat.  Banyak bukan? Tidak ada yang sia-sia segala bagian tubuh yang diciptakan oleh Tuhan.

Bagian terakhir adalah Faring, rongga di belakang tenggorokan.  Bagian ini merupakan saluran bersama antara sistem pencernaan dan pernapasan. Perempatan antara saluran hidung ke trakea (tenggorokan)  dan mulut ke esophagus (kerongkongan). Satu jalur napas, satu jalur makanan.  Salah masuk bisa keselek atau muntah.

Tentang ini, saya jadi teringat kata teman. “Pamali sementara makan lalu menengadah ke atas, nanti matanya bintitan“. Dikeluarganya, sewaktu kecil dia pernah dimarahi akibat makan sambil melihat-lihat ke atas. Sebenarnya tidak ada hubungan antara bintitan di mata dan masuknya makanan di mulut hingga ke kerongkongan lalu ke lambung. Bintitan semacam sakit mata di kelopak mata. Penyebabnya adalah bakteri atau peradangan. Larangan itu sebenarnya agar makanan masuk dengan lancar ke kerongkongan. Agar tidak salah jalan ketika di ‘perempatan’ faring.

Proses memasukkan makanan memang tidak  sederhana. Proses mengunyah yang melibatkan banyak hal, tetapi terkadang banyak orang yang masih makan terburu-buru – mungkin takut kehabisan. Haha! – . Mengunyah yang lama juga dapat membantu diet tubuh agar langsing. Kunyahlah makanan sesuai waktunya, berikan mulut kesempatan untuk berproses, agar kesehatan tubuh tetap terjaga.  Makanan yang halus hasil proses mengunyah akan banyak membantu dalam proses-proses pencernaan selanjutnya.

Mari makan pelan pelan 😀


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Mari Makan Pelan-Pelan !