Namaku bertambah Panjang. 5


Lega tiada terkira ketika ujian berakhir dengan nilai yang memuaskan, walaupun tampaknya ujian sidangku kemarin entah mirip sinentron yang lebay sangat, atau mirip reality show kayak termehek-mehek.

Untuk pertama kalinya, selama kuliah diBiologi, aku menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil berumur 5 tahun yang kehilangan pegangan ibunya dipasar. Padahal 1 hari sebelum sidang, aku berjanji untuk menahan sekuat mungkin “tidak menangis”. Aku tipe orang yang dapat menahan tangis, tapi dalam situasi tertentu, ketika hati sudah tidak kuat, aku bisa menangis ketika sedang sendiri, tangisku bisa membuat kita berenang ria.

Entah kenapa sebelum sidang, hatiku sedang tidak tenang, banyak faktor-faktor X yang membuatku tidak tenang di hari itu. Degupan jantungku bertedak 5 kali lebih cepat, aku Shock!

Memasuki ruangan ujian sidang, tubuhku sudah bergetar, aku tegang. Segala bacaan doa aku lontarkan supaya tenang, Alhamdulillah, aku mulai menguasai ruangan. Dari 6 dosen, 2 dosen aku dapat menjawab 90% pertanyaannya, 3 dosen aku hanya bisa menjawab 50 %, dan 1 dosen aku tidak dapat menjawab sama sekali. Dan ketika dosen ini bertanya, Buarr…. seperti terjadi gempa terbesar dalam tubuhku yang menghasilkan tsunami parah. Air mataku buncah. Aku menangis. Dan aku kaget.

Kali ini benteng pertahananku roboh. Aku bingung, panik. “Maaf Bu, aku sebenarnya tidak ingin menangis!” kata-kata itu selalu ku lontarkan.

Aku kecewa sama diriku sendiri, aku mengerti, tapi kenapa otak dan mulut seperti tidak sinkron, aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku pahami. BLANK!

Dosen penguji ikut panic, aku sendiri bingung kok bisa tumpah ruah gini? Seharusnya nanti ketika aku yudisium. Salah satu dari mereka seperti tidak percaya melihatku menangis,

“Yang saya tau, anak ini lincah, tegar, kuat, attraktiv, ceria.. kenapa menangis? Tarik napas dalam-dalam. Tenangkan diri” salah satu dosenku mulai mengarahkan.

Setelah berhasil tenang, aku memarahi diriku  sendiri yang tidak kuat. Aku membenci diriku sendiri. Memalukan. Kok bisa-bisanya saat itu aku tidak mampu mengkotak-kotaknya emosi. Padahal sebelumnya aku paling bisa ngontrol diri.

Aku melanjutkan ujian, aku mulai menguasai pikiran, 90 % dari pertanyaan dari penguji terakhir dapat aku jawab dengan lancar.

Selesai semua, akupun keluar ruangan. Pasrahka kepada Yang Maha Kuasa. Ujian tadi tidak menunjukkan LANCAR.

10 menit kemudian, nilai sudah dihitung, dan akan diumumkan nilai yang pantas untukku, Ah… tidak mungkin dapat nilai A- apalagi A. Kalau beruntung pasti dapet B, syukur-syukur kalau disuruh ulang ujian sidang. Smoga aja aku termasuk Lulus.

Aku berdiri, tubuhku mulai bergetar, tembok-tembok pertahananku serasa rapuh. Seperti punya stok air mata selautan samudra. Entah kenapa tidak ada tanda-tandanya akan habis.

“ Saudari Nur Al Marwah, dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah dilontarkan bapak ibu penguji, ada yang bisa dijawab, ada yang terlihat ragu, dan ada yang tidak bisa dijawab.

Setelah perhitungan dari 6 penguji, maka, nilai rata-rata Ujian Sidang anda adalah 85,84”

Jes…. air mataku tumpah… seperti air terjun yang jatuh bebas tanpa hambatan, mengalir deras, nilai diatas 85 adalah nilai A.

Aku tidak percaya, sujud syukur kepada Yang Maha Kuasa. Aku tidak dapat menahan air mata.

Memang banyak faktor yang membuat hatiku sedikit teriris saat itu, sebagian kecil dari pikiranku sebenarnya melayang.

Aku memikirkan masa laluku selama 4 tahun kuliah di Biologi. Aku tidak percaya bisa sampai juga di tahap akhir, menyelesaikan dengan sempurna. Ketika semester III dan semester V, aku masih mencoba ujian SNMPTN, jatah 3 tahun ujian aku manfaatkan. Berkali kali aku tidak focus kuliah, seperti pencarian jati diri, aku mau pindah ke kedokteran, atau pindah jurusan ke social-ekonomi. Bahkan sempat ingin transfer nilai untuk pindah jurusan. Aku tersadarkan akan “keren”nya biologi ketika memasuki semester VI. Aku mulai serius, hingga di tahap ujian ini. Karena “Feel” aku mencintai Biologi sudah ku temukan.

Aku juga memikirkan kedua orang tuaku. Babaku seorang Sarjana Teknik, tapi Ummiku seorang tamatan SMA. Ummi adalah motivasi terbesarku untuk menyelesaikan hingga akhir. Sebelum ujian sidang tadi dimulai, Ummi menelpon. Dengan kata-kata halusnya, cukup membuat benteng pertahanan di hatiku luluh. Kalau bicara orang tua, aku lemah. Aku adalah anak kedua, tapi aku berhasil membuat Beliau bangga sebagai anak pertamanya yang wisuda. Gelar “S.si” ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku.

Aku juga memikirkan orang tua waliku, beliau Almarhum Hj. Susi Israwanti. Beliau adalah tante kesayanganku, adiknya Ummi, semenjak 2005 aku tidak bersama orang tua, Almarhum benar-benar sosok ibu yang sangat kurindukan hingga saat ini. Kenapa aku memilih Biologi sebagai pilihanku untuk kuliah? Semua adalah support, dorongan, dan saran dari Almarhum. Almarhum melihatku memulai kuliahku, tapi tidak melihatku menyelesaikannya. Tepat 1 hari setelah ujian sidangku, adalah hari Kematian beliau, 21 November 2008. Mengingat almarhum, bisa membuat mataku berkaca-kaca. Apalagi memikirkannya. Kukirimkan surah Alfatihah untuk almarhum .

Aku bersyukur, Allah SWT masih menyayangiku, kasih sayang-Nya ditunjukkan dengan membuka hati para penguji untuk tetap memberikan nilai tinggi untuk hasil akhir ujian sidangku ini.

Alhamdulillah, Setelah yudisium ini, namaku pun secara resmi berubah.


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “Namaku bertambah Panjang.