Review film : Bidadari-Bidadari Surga 2


Haduh.. 19 hari semenjak postingan terakhir, sy utang banyak postingan bulan ini.

Seharusnya minimal tiap minggu sy posting satu kali, tapi karena sesuatu dan lain hal, koneksi lg gak ada, media lagi bermasalah,, hmm.. parah juga -___-“

Okelah,  kali ini sy mau posting tentang Materi Sinemakita yang sy siarkan bareng kak adji (penyiar tetap) di Radio Madama Makassar, 87,7 FM.

Findie ini komunitas Film yang baru saya ikutin, salah satu agenda tiap minggunya, setiap hari Jum’at, FINDIE Makassar bekerja sama dengan MADAMA untuk ngisi acara SINEMAKITA. Saya kemarin (7 Desember 2012)  bercerita panjang lebar ttg salah satu film baru bulan 2012 “BIDADARI-BIDADARI SURGA” berikut materi yang diulas oleh Rezz, big bos-nya FINDIE Makassar.

Bidadari Bidadari Surga
Keluarga adalah Segalanya

Judul Film            : Bidadari Bidadari Surga
Sutradara            : Sony Gaokasak
Penulis Naskah: Sony Gaokasak, Dewa Raka, Tere Liye
Produser             : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Pemain                 : Nirina Zubir, Nino Fernandes, Nadine Chandrawinata, Henidar Amroe, Rizky     Hanggono, Chantiq Schagerl, Adam Zidni, Frans Nicholas, Gary Iskak, Piet Pagau.
Produksi              : Starvision (rilis 9 Desember 2012)

Rasanya pas menonton film drama keluarga menjelang akhir tahun, Sony Gaokasak paham benar timing ini. Walau hanya melewati proses editing tiga hari, ‘Bidadari Bidadari Surga’ sukses menyampaikan pesan bagi setiap kelurga: keluarga adalah segalanya.

‘Bidadari Bidadari Surga’ diangkat dari novel best seller karya Tere Liye, berkisah tentang ketulusan dan keihklasan Laisa merawat ibu dan adik-adiknya walau dirinya ‘berbeda’. Laisa merupakan anak tertua di keluarga ibu Lainuri (Henidar Amroe). Laisa berbeda dari keempat adiknya. Ia berkulit hitam, berambut keriting, dan bertubuh pendek, sementara adik-adiknya bertubuh tinggi, putih, dan berambut lurus.

Setelah kematian ayahnya akibat diterkam harimau, Laisa-lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia pun bertanggung jawab membesarkan adik-adiknya hingga mereka dewasa dan menikah. Tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan keluarga bagi Laisa. Ia bahkan tidak memikirkan pernikahannya sendiri, demi Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta.

Tidak hanya Laisa yang berbeda, keseluruhan film ini juga berbeda. Sebab sutradara menggunakan 10 menit animasi buatan tim Animasi Baros sebagai pembuka. Animasi ini menjadi appetizer yang pas bagi pentonton, lantaran setelahnya satu-persatu penonton akan disuguhkan adegan penuh haru. Bahkan Nirina Zubir yang berperan ‘khusus’ sebagai Laisa tidak berhenti meneteskan air mata.

Film hasil kerja produser Chand Parwez Servia ini bukan film cengeng ala sinetron. Meski penuh adegan bikin mewek, ‘Bidadari Bidadari Surga’ terkesan eksklusif. Konflik-konflik dan simpati penonton lahir dari adegan ‘menangis sendiri’ Laisa yang tidak diketahui saudaranya yang lian. Banyak pula perasaan haru yang lahir dari usaha ketegaran Laisa menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya.

Hal menarik dari film ini lainnya adalah pemandangan unik perkebunan strawberry ‘Roseberry’, pekerjaan Yashinta (Nadine Chandrawinata) sebagai pemerhati hewan liar dan gambaran kesederhanaan keluarga Lainuri pasca kesuksesan perkebunan dan pendidikan keempat adik Laisa.

Dalam ‘Bidadari Bidadari Surga’ ini, banyak yang berpersepsi judul tersebut berasal dari karakter Laisa yang rela menjadi istri kedua seorang suami yang tidak berketurunan. Akan tetapi, makna judulnya tidak sesempit itu. Silakan nonton dan temukan sendiri makna lainnya!

Fakta-fakta menarik:

– Banyak yang tidak percaya Nirina mau berperan sebagai Laisa

– Proses editing hanya memakan waktu tiga hari, dan syutingnya selama 18 hari. Syuting baru selesai 2 minggu sebelum pemutaran di bioskop

– Film ini mengangkat budaya Minangkabau, Sumatera

– Syuting kebanyakan dilakukan di Puncak untuk menghemat biaya produksi

– Diangkat dari novel berjudul sama. Sutradara mengambil cerita asli 70% dan 30% merupakan eksplorasi. Seperti tokoh Cie Hui (istri Dalimunte) dan Dharma (calon suami Laisa.

–   Penggunaan aktor berdarah Indo

Satu lagi yang mencolok dari film ini adalah penggunaan aktor-aktor berdarah Indo yang menjadi adik karakter yang diperankan oleh Nirina Zubir.Sebut saja Nino Fernandez dan Nadine Chandrawinata, serta beberapa aktor cilik lainnya.Hal ini menimbulkan suatu pemandangan kontras, di mana karakter yang diperankan Nirina, berkulit gelap dan berambut keriting. Di lain pihak, adik-adiknya berkulit terang layaknya keturunan Eropa.Menurut Sony, orang berkulit terang dan bermata coklat layaknya keturunan Eropa, jamak ditemukan di Pulau Sumatera.” Orang-orang di Sumatera banyak yang berkulit putih seperti keturunan Eropa. Laisa memang berbeda, karena ia anak angkat, meski diceritakan tersirat dalam film ini, ” papar Sony.

untuk Sesi SINEMA KLASIK, film yang dibahas adalah

Senyum untuk Mama (1980)

Kisah seorang janda dengan tiga putrinya yang berjuang menegakkan hidupnya, apalagi harus menghadapi putri terkecilnya, Shanti yang terkena leukemia. Saat pihak rumah sakit minta uang muka, sang ibu menjual seluruh perhiasannya. Untuk menghibur ibunya, Shanti menciptakan sebuah lagu, “Senyum untuk Mama”. Suster Anna, sang perawat, tertarik pada bakat Shanti dan mengajak rekaman. Namun sebelum semunya berhasil, Shanti meninggal.

Produser Syamsir Alam
Sutradara M Sharieffudin A
Penulis M Sharieffudin A
Pemeran Santi Sardi, Lenny Marlina, Alicia Djohar, Nia Daniati, Henny Puspitasari


About Nunu Asrul

Dream Catcher | Pengamat Purnama & Bintang | Pengumpul Buku & Mainan | Penikmat Ice cream | Pengisi Blog | Penjelajah Alam | Biomedic-Physiologist |Mastoideus | @SigiMks | Soulmaks Creative | 1000Guru Makassar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Review film : Bidadari-Bidadari Surga