Flash Fiction


#FF [12] : Maaf, Aku terlambat.

” Triing” Ponselku bergetar. Dan aku terhenyak  lima detik. Namamu muncul dalam sebuah permintaan berteman dalam suatu sosial media. Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabarmu. Kamu tahu? Aku (masih) menunggumu. Lima detik kemudian, aku menerima pertemananmu dan satu kata dalam statusmu yang membuatku seperti tersengat petir. “Hometown”. “Kamu di […]


#FF [11] : Seminggu lagi. 2

“Aku mau ke rumah mu sekarang. kamu keluar hari ini?” Yah seperti biasa. Ketika terjadi sesuatu aku akan mencarinya. Meski tahu tidak selalu menemukan solusi, tapi bercerita dengannya dapat membuatku tenang. “Ya. Datang saja… Aku akan menunggumu ” singkat. Telepon ku tutup dan aku segera bergegas. “Kamu kenapa?” “Tidak. Sepertinya […]


#FF [14] : Ada Apa?

Huruf huruf itu tidak lagi menyatu, kata kata semakin buram. Segala kalimat tidak terbaca. Cerita ini, Apa maksudnya? Kamu bingung. Akupun demikian. Inikah jalan kita? Jalan sebenarnya? Semangat itu masih besar. Menyala seperti api. Tapi bisa saja padam seketika. Dikalahkan air. Lalu jadi abu. Aku manusia, maka aku berpikir. Ratusan […]


#FF [8] : Seseorang sepertimu itu.

“Nak… bagaimaina kabarmu? bagaimana kabarnya? ” Semenjak hari itu, semenjak ibuk melihat fotonya, semenjak ibuk mengetahui segala tentang dirimu. Semakin bahagia dan semakin seringlah ibuk menelponku hanya untuk membicarakanmu. “buk. Aku baik-baik saja, Dia juga baik baik saja. Kami masih biasa bercerita kok.. Kami ..” aku terdiam. tak tega 6rasanya […]


Suhu tubuh meningkat, berkali-kali ia mondar-mandir toilet untuk mengeluarkan mucus. Sangat gatal, sangat berat, sangat menyiksa. flu berat disertai demam dan batuk itu menghalanginya untuk beraktivitas malam itu.

Besok adalah hari kemenangan, setelah sebulan berpuasa, umat Islam bersuka cita, kembang api menghiasi malam, takbiran berkumandang di seluruh mesjid, seluruh kota. Bahagia berkumpul bersama keluarga.  Remaja wanita mulai mempersiapkan baju barunya. Ingin tampil cantik dan sempurna. Jilbab putih dan mukenah cantikpun disetrikanya.  Yang laki-laki menitipkan baju koko sebagai antrian berikutnya untuk dirapikan.

Bahagia.  Tapi, tidak dengan Narah, di sudut kamarnya, ia terbaring lemah. Seperti kehabisan energi, Ia diam, hanya dengan suara batuknya yang menandakan ia ada di dalam kamar.

Untuk kesekian kalinya Narah tidak lebaran bersama kedua orangtuanya. Jarak lah yang menghambat pertemuan mereka. Jadi kali ini, dia lebaran bersama keluarga ibunya, kakak dari ibunya di kampung halaman.

Dua – tiga hari yang lalu Narah masih fit, masih sempat berlarian mengejar keponakannya yang mengambil buku yang sedang dibacanya. Tapi entah kenapa , hari ini Narah justru lemah tak berdaya di kamar. Gelisah, berharap besok bisa ikut sholat Ied di mesjid.  Fisiknya sakit, begitu juga dengan hatinya, ia begitu merindukan kedua orangtuanya, begitu berharap suatu saat, Ramadhan berikutnya bisa memohon maaf atas khilaf seraya mencium tangan dari kedua orangtuanya. Ah… entah kapan moment langka itu bisa terjadi.

“uhuuk..uhuuk”  batuk berulang kali itu betul -betul menyesakkannya. Masih pukul 20.00 WITA, Narah sudah siap mengisi energinya untuk besok. Tak lupa ia meminum obat anjuran dokter. Semoga besok segera membaik.

Bayangan hitam muncul, mimpinya yang baru saja dimulai tiba-tiba buyar. Narah terbangun, akibat ponselnya yang terus berdering dan bergetar. Belum cukup setengah jam ia tertidur. Ponsel itu benar-benar mengganggunya. Lihat sekilas, nomer luar negeri. Dengan segera tombol hijau dia tekan.

“Nak, kamu baik-baik saja? besok di Indonesia lebaran? sama disini juga lebaran,”

“iya bu, ibu,Selamat Lebaran, Minal Aidzin wal Faidzin yah bu,  Maafkan Narah yah bu. “

“Loh suara kamu kok jelek, kamu sakit?”

“Tidak ibu, cuman demam biasa saja.”

“Kamu pasti sakit, itu Ayah kamu lagi sakit juga, demam juga, Panas sekali badannya, sekarang lagi istirahat.”

Ah… ternyata itu penyebabnya, kontak batin  itu masih ada.