Flash Fiction


#FF [6] : Aini Juga Mau ke Surga..

” Kakak Mala, kakak Mala… sini kakak Mala!”  anak kecil ceria menggemaskan itu berumur empat tahun, dia melambai-lambaikan tangannya memanggil. ” kakak Mala, sini, lihat ini… “ Orang yang dipanggilpun segera mendekatinya, menggendong sebentar, lalu memangkunya. ” Kakak Mala, ini foto kakak Mala kan? yang pegang piala itu kan? pialanya […]


#FF [5] : Berdialog dengan-Nya

Cuaca sedang cerah hari ini. Langit terang, sinar matahari pun tak panas, terhampar luas awan cirrus yang berlapis lapis tipis seperti bulu-bulu serat sutra halus. Sepertinya hujan tidak akan turun hari ini. Uap air sudah membeku menjadi kristal es yang sangat jauh dari bumi, lebih 8000 km. Bumi sedang bahagia,  […]


Lagi iseng buat Flash Fiction, Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Jumlah katanya sekitaran 200-an – 1000an, ada yang bilang #FF itu 100 kata. Yang jelas #FF itu cerita yang sangat singkat, adiknya cerpen 🙂

Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. Secara ekstrem, prinsip indicontohkan oleh Ernest Hemingway dalam cerita enam katanya, “Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai.” 

Satu jenis flash fiction menggunakan jumlah kata yang spesifik. Contohnya cerita lima puluh lima kata atau cerita seratus kata (Wikipedia).

Dari blog lain, (sy lupa sumbernya ), Jess Gallo, dosen di Universitas Wiscosin Madison mencantumkan definisi flash fictionsebagai:
“Salah satu jenis genre  penulisan popular dari proses creative writing yang mengandung unsur-unsur cerita pendek. flash fiction dapat disebut juga sudden fiction, microfiction dan ‘short-short story’ yang mengandung 300 – 1000 kata.”

———

“Nak, Ibuk suka dengan sosok itu, lebih baik dari pada teman dekatmu yang dulu.” terdengar jelas suara ibuk dari jauh.

“Iya, tapi kami tidak ada hubungan yang lebih dari sekedar teman buk.”  aku mempertegas status hubungan kami. Yah kami memang dekat, tapi kami hanyalah teman seperti yang lainnya.

“Iya, nak. entah kenapa ibuk suka melihat wajahnya, sepertinya dia anak baik-baik.”

Aku terdiam, mengangguk kecil menyetujui pernyataan ibuk. Dia memang baik.

Tapi buk..”

Tuut..tuut”

Pembicaraan kami terhenti. Telepon genggamku ku letakkan diatas meja tepat disamping tempat tidurku. Akupun berbaring sambil menatap langit -langit kamarku.  Suasana hening seketika, tapi dalam otakku sedang ribut, terjadi perkelahian hebat antara logika dan hati. Aku masih menahan rasa itu.  Menepis segala imajinasi dengan logika nyata. Wanita memang perasa, butuh pemikiran yang kuat untuk melogikakan semua perasaan itu, hingga sadar, telah dibutakan hati. Dia memang baik. Sempurna. Mampu menghipnotis Ibuk bahkan sebelum bertemu. Bukan cuman Ibuk. Akupun demikian. Diam-diam ku berikan bintang kuning pada akunmu.

Ibuk, Akupun berharap demikian, tapi biarkan Tuhan yang tentukan. Jalannya akan mudah. Jika dia memang untukku.. 


#FF [3] : Jarinya enam = Polydactyly

Mobil melaju kencang, setelah melewati berbagai rumah yang bentuknya hampir seragam, hamparan sawah berwarna hijau menyegarkan mata. Aku diam menghayati setiap lukisan alam yang tergambar di layar kaca mobilku. Gerakan awan, anggukan pohon, berbagai sosok manusia tak dikenal silih berganti, bahkan sesekali tampak burung terbang menari bebas di angkasa. Subhanallah, […]


#FF [2] : Cerita Kehidupan Rian. 4

“Aduuh… ampiuunn eiiimmm. Udah ah, takut bunuh diri eiimmm” Kak Rian yang duduk tepat dibelakang Nina tersenyum kecut pasrah mulai menyerah terhadap kertas putih didepannya. Tingkat kesulitan Scoring kali ini 2 kali lipat dari sebelumnya. Listening yang cepat dan ‘blebblebebeblebeb‘ serta soal reading yang pembahasannya berat benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi […]